Bab 7: Ritual Penyerahan Sang Bunga
Aula singgasana kini hanya diterangi oleh pendar redup dari permata ungu yang tertanam di dinding obsidian. Elena von Solari terbaring di atas hamparan sutra yang begitu lembut hingga ia merasa seolah-olah sedang melayang di atas awan. Namun, kehangatan yang ia rasakan bukan berasal dari bantal-bantal itu, melainkan dari kehadiran tiga sosok yang kini mengepungnya.
Kian duduk di tepi hamparan sutra, menatap Elena dengan tatapan yang sangat dalam. Ia tidak lagi menggunakan sihir untuk menekan sang putri; ia ingin Elena menyerah dengan kehendaknya sendiri yang telah terkontaminasi oleh nafsu.
"Lihatlah dirimu, Elena," bisik Kian, suaranya seperti beludru yang membelai pendengaran. "Tanpa zirah itu, tanpa pedangmu, siapa kau sebenarnya? Hanya seorang wanita yang haus akan sentuhan yang selama ini kau anggap sebagai dosa."
Elena memalingkan wajahnya, namun jemari lembut Althea dengan halus memutar dagunya kembali untuk menghadap Kian.
"Jangan malu, Putri," ucap Althea dengan nada yang menenangkan. "Di sini, tidak ada hukum gereja. Tidak ada ekspektasi rakyat. Hanya ada Tuanku, dan keinginanmu untuk menyenangkannya."