Bab 8: Fajar Baru bagi Sang Budak Suci
Cahaya matahari pagi yang pucat menembus celah-celah tinggi Citadel of Infinite Sin, namun di dalam aula rahasia Kian, waktu seolah berhenti. Di atas hamparan sutra yang kini berantakan, Elena terbangun dengan perasaan yang sangat berbeda. Tidak ada lagi beban berat dari zirah perak, tidak ada lagi rasa sakit dari tanggung jawab kerajaan.
Ia menatap langit-langit obsidian dengan mata yang sayu. Di lehernya, tanda ungu pemberian Kian kini berdenyut pelan, memberikan rasa hangat yang candu ke seluruh tubuhnya.
"Kau sudah bangun, Elena?" suara Kian menyapa dari arah balkon.
Elena segera bangkit, mengabaikan fakta bahwa ia kini hanya mengenakan kain sutra hitam transparan yang diberikan oleh Althea. Ia berjalan menuju Kian dan, tanpa ragu, berlutut di samping kaki sang penguasa. Sisa-sisa harga diri sang putri telah digantikan oleh keinginan murni untuk patuh.
"Tuanku..." bisik Elena, suaranya kini terdengar lebih lembut dan penuh gairah. "Apa yang Anda inginkan dariku hari ini?"