Bab 10: Gema Kemurkaan dan Sumpah di Atas Pedang Patah
Aula Agung Kerajaan Solari, yang biasanya dipenuhi dengan nyanyian pujian dan aroma dupa suci, kini terasa seperti kuburan yang dingin. Di atas altar marmer yang putih bersih, dua kepingan logam yang dulunya adalah pedang suci Aurelius tergeletak dengan hina. Aroma parfum mawar yang memabukkan dan sensual menguar dari pedang itu, memenuhi ruangan dan membuat para pendeta suci menutup hidung mereka dengan jijik.
Raja Valerius von Solari berdiri di depan tahtanya, wajahnya yang keriput memerah karena amarah yang tak terkendali. Tangannya gemetar hebat saat ia menatap pusaka kerajaannya yang telah hancur.
"Ini bukan sekadar kekalahan militer," suara Raja Valerius menggelegar, namun ada nada ketakutan yang terselip di dalamnya. "Iblis itu... dia berani menodai simbol kesucian kita dengan bau nafsu yang menjijikkan ini! Dan putriku... Elena..."
"Laporan dari pelarian menyebutkan bahwa Yang Mulia Putri tidak tewas, Baginda," ucap seorang penasihat tua dengan suara bergetar. "Namun, ia terlihat dibawa masuk ke dalam menara oleh sang penguasa kegelapan itu sendiri. Dan... dia tidak terlihat seperti sedang disiksa."
"Cukup!" Raja menghantamkan tinjunya ke sandaran tahta. "Jika dia masih hidup, maka dia sedang mengalami nasib yang lebih buruk dari kematian. Jiwanya sedang diracuni oleh makhluk mesum itu!"
Di sudut aula, seorang wanita dengan pakaian zirah biru tua yang elegan dan rambut pendek berwarna perak melangkah maju. Dia adalah Seraphina, Grandmaster dari Orde Ksatria Langit, sekaligus sahabat karib Elena sejak kecil.