Embun di Atas Daun Maple

Hadis Mevlana
Chapter #1

Je m'appelle Kiara - REVISED

Wahai Maryam

Aku heran melihat manusia mempertanyakan

tentang siapa gerangan putramu

Hingga kami harus bersimbah darah

karena meributkan tentangnya

Wahai Bunda

Sampaikan salam kami, umat Nabi Saw,

kepada belahan jiwamu

Seorang putra yang tercipta dengan kalimat-Nya,

Bahwa kami sangat menghormatinya,

Beriman dengan ke-al-Masih-annya,

Tak ada ragu bagi kami untuk mengakui

Bahwa kau mengandungnya atas Ruhul Qudus

dari Rabbul ‘Alamin

 

***

Kesekian kalinya puisi ini kubaca lagi. Puisi tentang wanita terbaik di zamannya, Maryam. Puisi itu juga yang membawaku mengenal dan bersahabat dengan salah seorang gadis pengagum Maryam.

Aku masih duduk di hamparan rumput di taman University of Saskatchewan. Puisi itu pun membawaku mengingat kembali awal perjumpaanku dengannya. Dua tahun lalu di Ottawa, tepatnya saat perayaan tahunan Canadian Tullip Festival. Saat itu ia menghampiriku dan duduk di sebelahku. Lalu, ia menyapaku.

Nice performance,” ucapnya tiba-tiba.

Aku meliriknya sebentar, “Thank you,” jawabku singkat kemudian mengalihkan pandanga ke arah lain. Kuteguk air mineral untuk memulihkan napas usai tampil di panggung utama bersama kelompok paduan suara Swara Nusantara dan masyarakat Indonesia.

Dari sudut mata aku bisa mengetahui kalau dia masih menatapku. Usai kujawab pertanyaannya, ternyata masih berlanjut dengan satu dua pertanyaan lainnya yang mengalir begitu saja. Hampir semua pertanyaannya kujawab singkat dan sepertlunya. Bukan bermaksud tidak ramah, hanya saja kondisiku saat itu masih sangat lelah.

“Aku suka penampilanmu yang terakhir.”

“Terima kasih.”

“Suaramu bagus.”

“Ah penampilanku biasa saja. Pengiringkulah yang hebat. Mereka membuat pertunjukan tadi menjadi istimewa,” jawabku memuji pengisi acara.

Gadis berambut cokelat yang dibiarkan terurai panjang sebahu itu terus memujiku. Dari perawakannya, sepertinya dia bukan orang Asia. Namun, aku merasa ia sangat menyukai kebudayaan negeriku.

Di tangannya kulihat beberapa barang belanjaan suvenir khas Indonesia. Sekilas kulihat kalung khas Dayak menghiasi lehernya. Beberapa gelang ukiran khas Bali melingkar di pergelangan tangan kanannya. Anting mutiara Lombok berayun pelan setiap ia menoleh.

“Aku baru pertama kali mendengarkan lagu yang kau bawakan itu. Boleh kutahu judul lagu yang kau bawakan di penampilanmu yang terakhir tadi?”

Ilir-ilir,” jawabku singkat.

“Aku tak mengerti artinya, tapi aku suka nadanya. Lagu asal daerahmu?” tanyanya antusias.

“Bukan, itu lagu dari Jawa Tengah.”

“Ooo, kalau kau berasal dari daerah mana?”

“Teluk Kuantan, Riau.”

Aku sangat bangga dan merasa terhormat ketika dipercaya untuk menyanyikan lagu ilir-ilir dengan diiiringi permainan alat musik khas tradisional, seperti angklung dan rebana oleh Staff KBRI. Hampir dua minggu penuh aku belajar logat Jawa dan mendalami maknanya agar mampu memberikan hasil terbaik.

Aku senang, penampilan kami dapat menghibur pengunjung yang ada di sana. Saat bait itu kunyanyikan, kulihat sebagian penonton terdiam. Entah karena nadanya, atau karena sesuatu yang tak kasatmata ikut bergerak di dalam hati mereka.

Tembang yang konon diciptakan Kanjeng Sunan Kalijaga itu, yang bertutur tentang dakwah yang lembut itu, disajikan dengan versi sedikit berbeda. Diiringi permainan harpa yang dibawakan dengan apik oleh Maya Hasan, seniman Indonesia yang sangat terkenal dengan petikan harpanya. Dentingnya membuat “Ilir-ilir” terasa seperti doa yang berlayar di udara.

Hebatnya lagi, permainan harpa saat itu tidak hanya dimainkan sendiri oleh Maya Hasan, tapi juga berkolaborasi dengan beberapa pemain harpa kelas dunia lainnya seperti Hiroko Saito dari Jepang, Kellie Marie Cousineau dari Amerika Serikat, Lizary Rodrigues dari Puerto Rico, serta seniman yang lahir di Kanada, Carrol McLaughlin, seorang profesor harpa dari Arizona University.

Lir-ilir, lir-ilir

Tandure wus sumilir

Tak ijo royo-royo

Tak sengguh penganten anyar

Bocah angon-bocah angon

Penekno blimbing kuwi

Lunyu-lunyu penekno

Kanggo mbasuh dodotiro

 

Dodotiro-dodotiro

Kumitir bedhah ing pinggir

Dondomono jlumatono

Kanggo seba mengko sore

 

Mumpung padhang rembulane

Mumpung jembar kalangane

Yo surak’o … surak hiyo .…

Lihat selengkapnya