embun di ujung pedang

S.wayy
Chapter #1

Chapter 1# BAB 1: Taman lily

Lima tahun.

Lima tahun Putra Mahkota Xiao Beichen mengurung dirinya di Gunung Es untuk berkultivasi. Tidak ada yang tahu betapa dinginnya tempat itu. Hanya ada salju, angin yang mengiris, dan Pedang Embun di tangannya.

Hari itu, dia pulang ke Istana Hanlu.Begitu kakinya menginjak pelataran latihan dari batu giok hitam, adiknya sudah menunggu.

Pangeran Kedua Xiao Yuze berdiri sambil tersenyum nakal. "Kakak akhirnya pulang juga. Lima tahun tidak bertemu, biarkan adikmu ini melihat seberapa kuat Kakak sekarang. Satu ronde saja?"

Beichen tidak menjawab. Dia melepas jubah bulunya. Dua sosok putih bergerak cepat. Dentingan pedang memenuhi pelataran, percikan bunga api biru dan putih muncul. Kekuatan spiritual mereka membuat bendera berkibar kencang.

Tidak sampai sepuluh jurus, pedang Yuze terlepas dan menancap di tanah.Yuze tertawa ngos-ngosan. "Tetap saja aku tidak pernah bisa menang melawan Kakak. Monster."

Beichen hanya tersenyum pada adiknya Yuze,ia menarik kembali pedangnya. Napasnya masih teratur. Putra Mahkota Beichen tidak kembali ke Aulanya untuk beristirahat,melainkan langkahnya justru berbelok ke sisi barat istana dengan langkah yang lebih cepat.

Ke Taman Lily.

Taman itu adalah taman terlarang. Hanya keluarga inti yang boleh masuk. Ribuan bunga lily putih bermekaran di tepi danau. Harumnya lembut.

Di tepi danau itu, terhubung oleh jalan batu yang indah, berdiri sebuah paviliun. Namanya Paviliun Baili. Tiangnya diukir bunga lily, tirai sutra putihnya berkibar, dan lampion hangat digantung di setiap sudutnya.Di dalam Paviliun Baili itu, Putri Su Muxi duduk dengan anggun.Angin sore dari danau membuat tirai sutra di paviliun itu berkibar pelan.Wangi bunga lily yang begitu banyak membuat suasana menjadi sangat tenang ,namun tidak bisa menenangkan hatinya yang sedang kacau.

Sebagai putri tunggal Keluarga Su yang terpandang, Muxi sering diizinkan menghabiskan waktu di sana. Dia memakai gaun biru muda sederhana, rambutnya digelung rapi dengan jepit mutiara.Gaun itu terlihat sangat cantik dan anggun seperti peri danau.Itu adalah jepit mutiara peninggalan ibunya yang selau dia pakai saat gelisah dan merindukan seseorang.

Di sampingnya, pelayan setianya sejak kecil, Nyonya Li, yang sudah beruban namun sorot matanya tajam penuh kasih, sedang menuangkan teh hangat.Nyonya Li tersenyum lembut dan berkata, "Putri sudah menunggu sejak pagi, tehnya sudah dingin tiga kali."Putra Mahkota belum mengirim kabar kepulangannya juga?"tanya Muxi.Matanya terus menatap gerbang Taman Lily, ada rindu dan gelisah. Jari-jarinya meremas ujung gaunnya. "Sudah lima tahun... apakah dia melupakanku?" bisik Muxi pelan.

Nyonya Li mengelus punggung tangan Muxi. "Putri jangan berkata begitu. Hati Putra Mahkota hanya untuk Putri. Menurut kabar, Putra Mahkota sudah pulang hari ini. Lihat, bahkan bunga lily nya mekar lebih indah."

Baru saja selesai bicara, sebuah bayangan tinggi muncul di ujung jalan batu menuju Paviliun Baili.

Xiao Beichen berdiri di sana. Jubah latihannya masih basah keringat, masih menyisakan hawa dingin Gunung Es. Wajahnya lebih dewasa, rahangnya tegas.Langkahnya terhenti saat melihat siapa di dalam paviliun.

Lihat selengkapnya