Lembah Bulan tidak pernah seputih ini.
Seribu lily mekar untuk pernikahan Putra Mahkota. Malam ini, semuanya membeku.Cahaya putih dari Pedang Embun milik Xiao Beichen -- pedang yang ia bawa turun dari Gunung Es -- bertabrakan dengan cahaya biru asing yang keluar dari tubuh pengantinnya sendiri. Tidak ada ledakan. Hanya keheningan yang pecah menjadi debu kristal.
Xiao Beichen terhempas ke batu pemujaan.Darahnya mengotori benang naga emas di jubah pengantinnya. Pedang Embun yang selama lima tahun melindunginya di Paviliun Baili tergeletak di sampingnya, redup.
Di depannya, Su Muxi berdiri dengan gaun fenghuang merah.Cantik seperti yang ia bayangkan selama lima tahun menunggu. Dingin seperti yang tidak pernah ia bayangkan.
"Kekuatan itu..." suara Xiao Beichen hampir hilang. "Muxi... sejak kapan..."
Belati biru di tangan Muxi masih meneteskan darahnya. Tetes demi tetes jatuh di atas lily yang telah membeku.Xiao Beichen mencoba bangkit. Ia mengulurkan tangan, ingin menyentuh ujung gaun merah itu.
"Mengapa harus aku?
Muxi mundur setengah langkah. Menghindari sentuhannya.Angin mengangkat debu lily di antara mereka.
"Putra Mahkota."
Dari pertama kali bertemu di Paviliun Baili hingga malam ini menjadi istrinya, hanya dua kata itu yang pernah ia berikan.
"Jangan tanyakan apa yang bukan seharusnya Putra Mahkota dengar."
Tatapannya jatuh pada luka di dada Xiao Beichen. Hanya sesaat. Jemarinya yang memegang belati bergetar halus, lalu ia genggam kembali lebih erat.
"Mulai malam ini, anggap saja Su Muxi itu tidak pernah ada. Lupakan nama itu. Lupakan pernah menunggu di Paviliun Baili. Semakin cepat Putra Mahkota melupakan, semakin baik bagimu Putra Mahkota."
Xiao Beichen memejamkan mata.
Cahaya biru memeluk tubuh Muxi. Ia lenyap. Hanya satu kelopak lily putih yang jatuh di atas genangan darah Xiao Beichen.Lembah itu sunyi. Bulan purnama di atas menyaksikan tanpa belas kasihan.