#01 – Luka Tak Kasat Mata
Delapan belas tahun yang lalu…
Aku berdiri di depan pintu itu. Bimbang akan keputusan yang aku ambil. Apakah aku akan masuk dan mengantarkan makanan ini atau tidak. Rantang makanan yang dibuat oleh Mama untuk Oma dan Opa. Setelah mengalami apa yang sebanyak lima kali sebelumnya, sudah keputusan yang bijak jika aku tidak ikut Papa kesini.
Dari ruang tamu aku aku menatap mata Oma. Tidak hanya wajah itu tidak tersenyum tapi matanya pun melakukan hal yang sama. Dingin, kaku dan tidak bersahabat. Apakah aku sehina itu hingga tidak pernah sekalipun diinginkan di rumah ini?
Papa bahkan mengabaikan aku yang masih becokol di pintu. Dari dulu Papa tidak perduli bagaimana perasaan putri sulungnya ini selalu ikut datang ke rumah ini. Membawa makanan sebagai perwakilan Mama yang menolak untuk datang.
Oma lalu datang. Dengan melipat tangannya di dada dengan rasa muak akan diriku. “Kali ini apa lagi yang dibawakan sama Mama kamu?”
Dengan jemariku yang bergetar di besi rantang, aku hanya menjawab dengan suara kecil. “Ma...ma...mama membuatkan sayur lodeh khusus untuk Oma.”
Oma tidak menyukainya. Menghela napas karena harus berurusan denganku lagi. “Kamu sama seperti mama kamu. Selalu mencoba hal terus menerus padahal sudah jelas-jelas kami tidak suka. Kalian berpikir kami akan berubah? Menerima kalian jika kalian melakukan ini?”
Aku sudah tidak tahan mendengar naba bicara Oma yang kasar. Aku hanya bisa menunduk. Di umurku yang dua belas tahun ini, aku sudah sering mendengar kalimat seperti ini dari mulut Oma. Mendengarnya seperti merasakan tusukan belati di hatiku yang tidak sama sekali tidak kuat ini.
Oma lalu menunduk. Menjajarkan wajahnya padaku. “Seandainya kamu anak laki-laki. Pasti ini akan sangat berbeda. Sayang kamu anak perempuan dan begitu juga dua adik kamu.”
Hatiku hancur!
Hancur!
Apa aku bukan manusia???!
Apa ada orang yang setega ini dengan cucunya sendiri?!
Apakah salah menjadi perempuan?!
Kami juga manusia dan berakhlak!!!
Kami juga punya hati dan hidup serta bernapas seperti laki-laki!
Aku yakin Opa dan Papa juga mendengar perkataan itu. Tapi ketika aku menoleh dan melihat reaksi mereka, mereka seperti tidak perduli. Tidak merasa apa yang Oma katakan itu salah.
Itu salah besar!!!
Oma dengan rambut ikalnya yang selalu dia tata, lalu berdiri dengan tegap dan tersenyum setelah memberikan aku kejujuran paling pahit yang pernah dia katakan.
Cukup!
Aku tidak ingin lagi berdiri di rumah ini!
Ini adalah terakhir kalinya aku ada di sini!
Aku meletakkan rantang di meja dengan jemari yang bergetar hebat. Meskipun aku ingin melemparkan rantang itu tapi aku mengurungkan niatku. Karena aku menyayangi mamaku. Mama mengeluarkan keringat dan air mata itu membuatnya. Makanan itu tidak pantas untuk dilempar.