Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #2

#02 - Cermin Retak

#02 – Cermin Retak

 

Rumahku tepat berada di puncak bukit di daerah pinggiran kota. Keluargaku punya kebun teh yang masih kami jaga hingga sekarang. Selain itu ada sebuah ‘bioskop terbuka’ milik Kakek yang ada tidak jauh dari rumah.

Meskipun terdengar aneh, tapi bioskop itu adalah ‘jantung’ dan sumber kebahagiaan Kakek setelah Nenek tidak ada. Kakek memberinya nama ‘Bukit Cinta’ dan karena tempatnya yang terbuka, sering kali saat film sedang ditayangkan kami harus lari berteduh karena hujan menghantam semua kursi dan layar.

Kami bertiga saudara perempuan secara bergantian akan membantu Kakek disaat kami tidak sedang punya kegiatan. Tentunya ada Paman kami yang juga selalu siap membantu Kakek meskipun Kakek mengatakan dia hanya bisa ‘mengacau’ dan menyusahkan.

“Non,” Pak Iman, supirku, memanggil dari depan.

“Iya, Pak.”

“Apa Non Lara jadi ketemu Non Ulfa nanti malam? kata Nyonya, Non mau makan malam sama Non Ulfa.”

Ulfa, satu-satunya temanku yang bisa menerima perubahan seorang Lara. Sudah lama aku tidak keluar dan makan sama dia. “Iya. Kami mau pergi ke café Ombre ya Pak. Kita keluar jam tujuh malam aja.”

Pak Iman mengangguk tanpa banyak pertanyaan lagi. Lebih fokus pada jalanan dihadapannya ketika kita sudah hampir sampai rumah.

Tanganku mendadang menjadi dingin dan kaku. Jantungku berdebar semakin cepat melihat mobil yang hampir mencapai rumah. Aku benci momen seperti ini. Momen ketika aku harus berhadapan dengan orang-orang yang aku benci, suasana kikuk dan tidak nyaman yang harus aku lewati dan aku juga benci kenapa aku harus melakukan ini semua hanya karena untuk menyenangkan orang lain.

Kebahagiaanku harus yang paling utama kan?

Tidak ada yang lebih penting daripada kebahagiaan aku.

Ketika sampai aku dengan berat hati membuka pintu mobil dan ketika mataku melihat mobil Papa yang gemerlap dan mahal itu, hatiku hancur seperti cermin yang pecah. Tidak bisa diperbaiki lagi.

Setiap langkah yang aku ambil saat menaiki tangga batu di bawahku, selama itu juga aku berdoa jika aku akan melewati ini semua dengan menutup mulutku yang selalu menjadi sumber masalah ketika bertemu dengannya.

Pintu rumah kami yang perlu diperbaiki menyambutku dengan suara berderitnya hingga siapapun pasti tau jika ada orang yang masuk ke rumah.

Tidak lama kemudian, Misya, adikku, datang. Dia berbisik. “Kak, gimana sesi dengan Dokter Mira?”

Tidak ada perubahan. “Aman.”

Misya dengan perangai sedikit tomboy, melipat tangannya dan jelas tidak percaya. “Apa Dokter Mira tau kalau Kakak akan ketemu Papa hari ini?”

Aku benci mendengar nama itu. “Bagaimana Dokter bisa tau? dia datang mendadak dan nggak diundang.”

Lihat selengkapnya