Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #3

#03 - Penderitaan

#03 – Penderitaan

 

Aku bangun sekitar jam empat sore. Ketika membuka pintu tidak terdengar suara dari setiap sudut rumah. Tidak ada yang berada di rumah sepertinya. Hanya ada aku dan kepalaku yang berisi seribu masalah.

Aku pergi ke dapur dan menyeduh teh. Hal yang paling aku suka lakukan di sore hari. Secangkir teh dan diriku sendiri.

Kembali ke kamar dan duduk di sofa sebelah jendela. Pemandangan yang selalu aku lihat di sore hari dari kejauhan adalah bioskop milik Kakek. Dari kejauhan aku bisa melihat sudah banyak orang mencari tempat duduk terbaik di bioskop ‘unik’ yang dimiliki Kakek. Tidak punya atap. Kursi dari campuran batu alam dan kayu. Berbentuk ampiteater.

Mereka sedang menayangkan film Notebook. Film yang bisa membuat semua orang menangis hingga menit akhir.

Seandainya pasangan yang ada di film itu ada di dunia ini...

Aku tidak yakin sama sekali soal itu. Karena pada kenyataannya dunia ini begitu kejam untuk seorang Lara. Melihat mahluk bernama laki-laki saja aku tidak tau harus berbuat apa.

Aku tidak sadar ikut menonton dari kejauhan dan menghambiskan waktu satu jam duduk di sofa.

Ketika jam sudah menyentuh lima sore, aku mandi dan bersiap-siap. Ditambah lagi langit sudah mendung, hujan bisa turun kapan saja. Lebih baik aku datang lebih cepat daripada basah kuyup.

Sekitar jam enam saat aku turun, Pak Iman ternyata sudah siap di dekat mobil. Dia menutup koran miliknya ketika melihat aku mendekat.

“Sudah siap Non?”

Aku mengangguk dan langsung masuk ke mobil. Seperti biasa aku mulai merasa cemas. Kecemasan yang menurut orang terlalu berlebihan dan abnormal. Tapi mereka tidak berada di posisiku. Mereka bukan seorang Lara yang melalui pengalaman paling menyakitkan di pernah perempuan alami. Aku setuju untuk keluar dan berada di keramaian saja sudah hal yang ‘luar biasa’ untuk keluargaku.

Meskipun aku ingin membatalkannya. Aku tidak ingin mengecewakan Ulfa. Dia selalu menjadi sahabat yang suportif. Setidaknya aku berusaha untuk menahan kecemasanku demi temanku itu.

“Non, kalau ada apa-apa, saya ada di parkiran ya, tinggal telpon saya saja,” kata Pak Iman.

“Baik, Pak.”

Sesuai prediksiku sebelumnya, rintik hujan muncul. Membasahi kota bogor seperti biasa. Bukan Bogor namanya jika tidak ditemani hujan. Aku menempelkan kepalaku di jendela. Merasa energiku habis dan tidak bersisa. Mengingat bagaimana dua orang yang paling aku benci muncul di meja makan tadi siang, luka itu kembali dibuka oleh mereka.

Betapa menyenangkannya menjadi Raka.

Dicintai.

Diinginkan.

Dihargai.

Lihat selengkapnya