#05 – Pria itu bernama Djima
Dokter yang bernama Reyhan – berkumis tebal dan berkacamat tebal – datang di saat yang tepat. Saat aku ingin mengumpat pada pria bernama Djima itu. Dia beruntung Dokter datang dan memeriksa keadaanku.
Itu hal yang paling penting sekarang.
Sesekali aku melihat Sisy memperhatikan Djima. Dia seperti penasaran dengan pria itu. Sementara aku aku hanya ingin keluar dari rumah sakit ini secepat mungkin. Di sini terlalu banyak orang. Napasku sudah mulai sesak.
“Dok,” panggil Djima pada Dokter Reyhan. Suaranya benar-benar berat dan parau. “kenapa Dokter nggak periksa langsung? kayanya perawatnya kesulitan.”
Semua orang sadar perawat wanita yang sedang menyentuh tanganku benar-benar kesulitan. Tapi tentu saja aku tidak ingin Dokter Reyhan menyentuhku. Cukup perawat wanita ini saja.
“Ehm…” Dokter Reyhan melihat Dokter Mira. Mereka bertukar pandangan.
Dokter Mira mendekati Djima. “Kita bisa bicara di depan dulu, Djima. Biarkan Lara bersama keluarganya dulu.”
Djima tidak bersedia. “Aku mau di sini, Dok.”
Aku ingin melempar bantal di belakang kepalaku pada pria itu. Sebagai sumber masalah dan penyebab semua ini, harusnya dia sadar dan tau diri. Tapi sepertinya tidak.
Suara Dokter Mira tegas dan tidak ingin dibantah. “Dokter mau jelasin sesuatu. Ini penting.”
Dengan ekspresi berat hati, Djima pergi ke luar ruangan. Kenapa dia harus berat hati? harusnya dia tidak perlu berusaha dekat dengan aku. Dia sebagai orang asing terlihat merasa sedih seperti seluruh keluargaku.
Itu cuman kebohongan.
Tidak ada pria yang benar-benar peduli.
Tidak ada pria yang peduli dengan seorang perempuan.
Terutama dengan perempuan yang menyedihkan sepertiku.
Dokter Reyhan berdeham. “Lara, sepertinya kita harus melakukan MRI.”
“MRI?” tempat sempit mengerikan itu?
Aku menggeleng. Aku tidak mau masuk tempat itu lagi seperti dulu! Cukup sekali saja!
“Lara,” Mama mencoba menenangkan aku dengan menyentuh kepalaku. Wajahnya yang tadi pucat, sekarang lebih berwarna setelah melihat aku bangun dan bicara. “kami bakal nemenin kamu, sayang. Tenang aja, kita nggak mau ada apa-apa. Kamu mungkin belum ngerasain efek fatalnya. Karena Dokter kasih mau sedikit pereda sakit. Tapi karena kamu cedera tepat di tempat…”
Tanganku mengepal. “Berhenti, Ma. Aku nggak mau Mama bicarain itu lagi.”
Mama mengelus pundakku. “Oke, sayang. Maafin, Mama.”
Misya memegang jemariku. “Tenang, Kak. Aku bakal temenin Kakak selama di dalam. Aku bakal minta mereka ijinin aku. Tenang aja.”
“Mana ada orang yang boleh masuk ruangan steril itu, Misya.”
“Kita coba dulu.” Misya berusaha optimis.
Aku berusaha memalingkan pandangan dari tangan kananku yang terdapat luka jahitan itu. Tapi dari sudut mataku aku bisa melihat bagaimana merahnya kulitku, betapa kencangnya jahitan itu, dan ketakutan akan hal yang lebih fatal terjadi semakin memuncak di kepalaku.
Aku harus melakukan MRI itu.
Suka atau tidak suka.
Semua orang di sini pasti akan memastikan aku melakukannya.
Tirai di buka lagi dari luar. Tapi yang membukanya tidak aku kenal. Meskipun wajahnya tampak familiar. Tapi aku tidak bisa menerka siapa dia.