Aku menekan tombol perawat berkali-kali sambil masih melihat Djima yang masih tertidur di kursi yang terlalu kecil untuknya itu.
Bagaimana bisa satu keluarga aku membiarkan pria satu ini satu ruangan sama aku?!!!
Entah setelah belasan kali setelah aku menekan tombol itu, seorang perawat yang terlihat barusan lari, masuk dengan masker di wajahnya. Dia melihat aku dan Djima. Dia sedikit bingung.
Dia berbicara. “Ada apa? Apa ada yang sakit?”
Di saat itu juga Djima terbangun dan langsung melihat aku. Matanya memeriksa apa ada yang salah dengan aku. Dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Tanpa melihat Djima, aku fokus pada perawat. “Bukannya ini sudah malam? nggak ada yang boleh ada di sini kan?”
Perawat itu mendekat dan memegang bahuku. “Dokter Mira sudah meminta ijin sama Dokter jaga di sini, khusus untuk kamu boleh ada yang menemani sampai kamu dipindahin ke ruang inap. Nanti pagi baru ada kamar untuk kamu di sana.”
Tidak bisa aku sama pria ini lebih lama lagi!
“Saya nggak nyaman. Saya mau sendiri.”
Djima berdiri. Dia tetap menjaga jarak. “Clara, Adik kamu sebentar lagi sampai, aku cuma tunggu sampai dia datang. Tenang aja. Arman juga lagi beli makanan, sebentar lagi dia balik ke sini.”
Kenapa dia manggil dengan sebutan ‘KAMU’??!!
Panggilan yang terlalu intens dan terlalu ‘dekat’ untuk orang yang hanya sebatas ‘teman’ dari Arman.
Tapi aku tidak bisa membuat keributan di ruang gawat darurat yang penuh dengan orang sakit yang perlu istirahat. Jadi aku hanya menahan emosiku sebisa mungkin. Aku menggenggam selimut rumah sakit tanpa melihat ke arahnya. “Bisa nggak kamu pulang aja? aku bakal nunggu Misya atau Sisy datang. Jadi tenang aja, kamu nggak perlu ikut campur lagi.”
“Aku nggak bermaksud sama sekali…”
Mataku melotot ke arahnya. Lalu Djima sadar dia sudah melewati batas. Tapi dia masih tidak bergerak. Dia tidak beranjak sama sekali.
Aku melihat lebam-lebam di wajahnya dan baru tersadar betapa besarnya badan dari Djima. Jika dia melakukan ‘sesuatu’ maka aku bisa remuk seketika.
“Aku nggak akan mengganggu kamu, Clara. Kamu nggak perlu takut sama aku,” ucap Djima seakan tau kalau aku merasa inferior dengan perbedaan fisik kami.
Perbedaan kami benar-benar kontras.
Arman datang di tengah percakapan kami. Dengan dua tangannya yang penuh dengan makanan, dia melihat suasana dari raut wajah kami berdua. Perawat yang ada di sebelahku keluar setelah meminta ijin untuk memeriksa pasien lain.
“Lara, lu akhirnya bangun juga,” kata Arman berusaha mengubah suasana dengan cara ‘Arman’ sejak dia remaja. Dia memberi minuman dingin pada Djima. Djima hanya menerimanya tapi tidak minum sama sekali.
“Lu nggak pulang? ngapain masih di sini?” tanyaku sambil memperhatikan gerak gerik Djima dari sudut mata.
Arman duduk. “Wuidih, galak amat lu, Ra. Lu banyak berubah ya. Gue kan temen lu, wajar dong gue nemenin lu di sini.”