Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #7

#07 - Serangan Panik

 

Tanganku bergetar hebat. Mataku hanya bisa melihat tanganku yang bergetar. Aku bernapas seperti di dalam air. Tidak bisa menarik ataupun menghembuskannya seperti seharusnya. Lambat laun pandangan jadi keruh, dan suara orang sekeliling aku menjadi terasa jauh.

Apa aku ada di ruangan itu lagi?

Tuhan, apa aku ada di sana lagi?

Aku tidak mau di sana lagi! tolong!

Jangan sakiti aku lagi!!!

Aku bergerak! tanganku tidak terikat seperti di ruangan itu! aku bisa lari!

Brak!

Aku terjatuh dari ketinggian. Aku ada di mana?

Lantainya persis sama dengan tempat itu!

“Kak! Kak!” suara Misya bergema.

Aku melihat siluet wajahnya di depanku. Walaupun itu samar-samar. Tapi aku yakin itu Misya. Adikku.

“Kak! tarik napas Kakak,” pintanya dengan suara menenangkan.

Aku berusaha sekuat tenaga. Menarik napas sambil mencoba tenang. Sambil melakukannya, air mataku jatuh. Tapi aku fokus dengan menarik napas dan menghembuskannya.

Aku melakukannya hingga aku merasa sudah siap untuk membuka mata.

Aku melihat Misya dengan sempurna sekarang. Dengan mata berkaca-kaca, dia lalu tersenyum dan memelukku. “Kak, semuanya udah baik-baik aja. Aku di sini.”

Aku mengangguk di pelukan dia. “Jangan tinggalin Kakak, Misya.”

Misya menggeleng dengan cepat. Mengusap tangannya di lenganku. “Nggak. Tenang aja, nggak ada yang ninggalin Kakak.”

Aku benar-benar menyedihkan. Mencari perlindungan dari adikku sendiri. Menyedihkan dan mengecewakan. Apa kata orang lain melihat aku seperti ini? korban kekerasan yang belum bisa keluar dari sangkar dan dinding di sekelilingnya?

Kenapa harus aku yang mengalami ini semua?

Kenapa harus aku yang pergi ke rumah Oma waktu itu?!

Kenapa aku tidak bisa merasa bahagia?!!!

Kenapa?!!!

Langkah kaki mendekat. Aku baru sadar kalau aku duduk di lantai. Terjatuh dari tempat tidur. Aku baru ingat kalau aku ada di rumah sakit. Langkah kaki yang mendekat itu milik Djima.

Lihat selengkapnya