Delapan belas tahun yang lalu…
Sudah tiga hari aku hanya berada di dalam ruangan lembab ini dan tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun mereka ‘lebih baik’ hari ini - melepaskan penutup mataku – tapi bukan berarti semuanya berubah dan ada titik terang.
Aku sama sekali tidak mendengar apapun dari mereka mengenai keluargaku. Mereka hanya masuk, memastikan tali di tangan dan kakiku, dan sumpalan di mulutku. Selain itu menyajikan makanan pagi, siang dan malam. Dengan roti dan air putih. Sesekali aku diberikan nasi dan beberapa lauk.
Meskipun aku lapar, tapi menerima makanan mereka adalah hal terakhir yang akan aku lakukan. Pria pertama yang membuat tanganku menjadi biru dan lebam sampai mereka memanggil dokter, marah melihat aku tidak makan.
Tapi setelah hari pertama, dia tidak pernah masuk. Pria kedua yang lebih sering mengecek keadaan aku. Pria yang lebih pendek dan tidak banyak bicara. Tapi dia juga tidak suka aku tidak makan sama sekali.
Sekarang pria kedua pendek itu berjongkok didepanku. “Kalau kamu nggak makan, semua yang kita lakuin bakal sia-sia.”
Kalian semua mau meracuni aku kan???
“Kamu mau tetap dikasih pereda rasa sakit kan? kalau kamu nggak minum obat itu, kamu bakal ngerasa sakit lagi.”
Tanganku yang dibalut mulai muncul rasa sakit lagi.
Pria pertama datang dengan suara sepatu pantofelnya. Melihat piring yang masih belum tersentuh. Amarahnya memuncak lagi. Sepertinya tidak ada kabar baik dari keluargaku.
Mereka sepertinya melupakan aku…
“Dia nggak mau makan lagi?”
Pria kedua menghela napas. “Ya. Biarin aja, biarin dia ngerasa kesakitan lagi dan mohon-mohon sama kita buat dikasih obat.”
Pria pertama mendesis dari kejauhan. “Hari ini Papa kamu bener-bener menguji kesabaran. Kayanya dia nggak peduli sama kamu. Dia bahkan bernegosiasi soal harga. Benar-benar manusia sialan. Kita nggak mau nurunin harga.”
Aku ingin menangis. Tapi air mata hanya akan bikin mereka bahagia. Jadi aku menahannya. Menahan sekuat mungkin.
Aku cuman bersyukur tanganku masih bisa bergerak setelah disakiti seperti itu. Aku bersyukur masih bisa bernapas.
Tapi apa ini semua hanya harapan belaka?
Karena tidak ada hal baik yang dikatakan keluargaku.
Kami bukan orang kaya, tapi mereka tau orangtua kami pasti punya sesuatu untuk ditukarkan dengan nyawa anaknya.
Pria pertama berjalan seperti singa yang ingin memangsa. Pria kedua langsung menjauh. Terlihat siapa ketua dari mereka bertiga. Tangan pria pertama mengambil roti dan membelahnya. Dia menarik kain di mulutku.
“Makan!” dia menjejalkan roti itu.
Aku mengamuk. Menutup mulutku rapat-rapat.
“Makan!!! dasar anak kecil sialan! pantas keluarga kamu nggak peduli sama kamu!”
Setelah berusaha menutup sekuat mungkin, mulutku terbuka setelah dipaksa dengan kedua tangannya. Remahan roti masuk dan rasa aneh yang ada di roti itu terasa sangat jelas di lidahku.