Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #9

#09 - Rumah adalah segalanya


Aku berbaring di plat MRI yang sangat dingin itu. Terakhir kali aku harus masuk mesin ini adalah delapan belas tahun yang lalu. Memori buruk yang menyakitkan itu tidak bisa aku hapuskan. Terkadang aku iri dengan orang yang punya kemampuan untuk berpikir ‘masa bodoh’ karena jika aku bisa melakukannya, maka aku tidak perlu takut dengan mesin ini.

“Clara, kamu siap?” suara perawat pria dari speaker yang sudah terpasang di telingaku.

Aku melirik ke jendela dua arah yang berseberangan dengan mesin. Di sana perawat, Sisy dan Djima ada di sana. Sisy dan Djima khawatir. Wajah mereka tidak bisa bohong. Seperti yang aku perkirakan, tidak ada yang boleh menemani aku di dalam. Jadi mereka hanya bisa melihat dari luar.

Apa mungkin Dokter Mira berbicara dengan Djima soal masalah aku? tapi harusnya Dokter punya kode etik untuk tidak bicara masalah pasiennya bukan? tapi sepertinya Djima tau kalau aku begitu tidak nyaman untuk melakukan ini.

“Kita cuma butuh dua puluh menit. Kalau kamu banyak bergerak bisa diperpanjang sampai tiga puluh menit,” kata perawat lagi.

Siapa yang mau lama-lama di dalam?!

“Aku coba dulu.” Mau tidak mau aku harus melewati ini.

Perawat itu mengangguk dan memulai pekerjaannya. Aku mulai mendengar suara mesin bekerja. Plat di bawahku mulai bergerak. Aku menutup mataku supaya tidak melihat atap yang rendah itu. Hal yang paling dibenci orang yang mengidap klaustrophobia sepertiku. Aku fokus memegang bola karet di tangan kananku. Jika aku tidak tahan, aku bisa meminta mereka menarik aku dari dalam.

“Kita mulai, ya, Clara. Tenang aja, cobain tidur, memang suara bakal berisik, tapi daripada kita ulang semuanya dari awal, saya minta kamu coba ya.”

“Oke,” ucapku dengan lemas.

Mesin berbunyi kencang. Aku mengingat hal yang sama seperti dulu. Meksipun kali ini mesinnya memiliki suara lebih ringan daripada belasan tahun dulu. Bunyi itu berasal dari sisi bawah.

Seperti suara pekerja-pekerja bangunan yang sedang melakukan konstruksi pondasi. Aneh memang, Tapi memang seperti itu suaranya.

Aku tidak berani membuka mataku. Terlalu menyeramkan melihat atap yang begitu dekat. Aku takut napasku menjadi pendek dan aku berteriak meminta mereka menarikku.

Aku mencoba menarik napas dan mencoba untuk tidur. Hal yang sulit tapi cuman itu yang bisa aku lakukan. Tidak ada yang lain.

Perawat memutarkan lagu instrumen piano melalui speaker. Aku berupaya menenangkan diri dengan suara piano itu. Karena cuma itu sumber ketenangan yang ada di ruangan dingin ini.

Menit-menit berlalu…

Aku berhasil terlelap…

____

“Ada polisi datang,” pria ketiga yang paling jarang terlihat masuk dengan terburu-buru.

Pria pertama yang kembali menjejalkan makanan di mulutku di hari keempat ini, langsung gusar. Wajahnya cemas seketika. Tapi dia tidak lupa menutup mulutku dengan kain lagi.

“Jangan bikin suara! kalau kamu masih mau bicara sama keluarga kamu dan ketemu mereka, jangan bikin masalah.”

Lalu dia menarik tali di kakiku, menarik aku keluar ruangan. Untuk pertama kalinya aku melihat tempat yang mereka miliki. Tempat ini adalah rumah. Aku berada di lantai dua, dan kamarku berada di kamar nomor dua di dekat tangga. Pria pertama membawa aku ke ruangan paling ujung di koridor. Ruangan dengan ukuran yang sama, hanya saja di sana ada sebuah lemari tua.

Lalu dia membawa aku ke depan lemari itu.

“Masuk!”

Aku menggeleng.

“Masuk!” dia berteriak dan mendorong aku dengan paksa.

Aku terdorong ke dalam dan karena hanya ada ruang sempit yang tersisa berkat kumpulan baju di dalamnya, aku harus meringkuk di dalam.

Lihat selengkapnya