Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #10

#10 - Petaka di dalam rumah


Setelah berdebat panjang lebar, akhirnya Sisy menang. Kami naik mobil Djima. Aku menolak duduk di depan. Tapi meskipun aku duduk di belakang, Djima masih melihatku sesekali dari spion dalam mobil.

Menjengkelkan.

“Kak Djima, apa Kakak Djima udah pasti mau tinggal di sini? Kita tiap hari ujan loh. Biasanya orang-orang cari tempat panas kan?” tanya Sisy yang seperti kebiasaannya, selalu ikut campur urusan orang lain.

“Di sini keliatannya enak kok. Nggak masalah ujan terus, yang penting nggak banjir,” jawab Djima diplomatis.

Aku melihat jalanan di luar. Perjalanan masih panjang sampai ke rumah. Bisa-bisanya Sisy lebih milih naik mobil Djima dibanding naik taksi. Memang mobilnya lima kali lipat lebih mahal dari kita. Tapi tetap saja, Sisy terlalu sok dekat dengan Djima. Seharusnya kita sudah pulang ke rumah masing-masing dan tidak ketemu lagi. Tapi Sisy malah memperparah dengan mengajak dia ke rumah.

Memang tidak bisa diajak kerjasama anak satu ini.

Sisy berceloteh lagi. “Kak Djima seumuran loh sama Kak Lara.”

“Oh ya?” Djima melihatku lagi. Dia tersenyum kecil dari cermin.

Aku selalu tidak nyaman menjadi pusat perhatian. Tidak nyaman menjadi topik pembicaraan. Aku selalu merasa tenang dan bahagia kalau tidak berada di dekat orang asing. Berbanding terbalik dengan Sisy yang merasa orang asing perlu di dekati. Dia terlalu percaya. Itu bisa menjadi bumerang.

Siapa yang bisa menjamin kalau Djima pria baik-baik?

Hanya karena dia teman Arman, bukan berarti semuanya aman-aman saja. Menjaga jarak adalah kuncinya. Belum lagi dia ternyata petinju. Pantas saja wajahnya penuh lebam tanpa henti. Setiap hari berkutat dengan profesinya yang cukup jarang di dengar di kota ini.

Ditambah lagi Djima bilang dia ‘pacar’ aku di depan Papa. Apa maksudnya? mau jadi pahlawan kesiangan? kalau sampai Papa dan Djima ketemu lagi, entah di mana, aku tidak tau apa yang bakal terjadi.

Meskipun menyenangkan membayangkan Djima berhasil menampar Papa. Seenggaknya, Papa perlu dikasih pelajaran.

“Kalian laper nggak? sebelum sampai rumah, kita bisa mampir buat beli makan siang,” Djima menawarkan.

Aku tidak menjawab. Lebih baik mengurangi percakapan dengan dia.

Sisy melihatku sebentar. Lalu tersenyum ke Djima. “Kayanya nggak perlu, Kak. Kakek pasti sudah masak. Kakek udah nunggu Kak Lara.”

“Kakek kamu bisa masak?”

“Iya, Kakek serba bisa. Kakek selalu masak buat kita semua, terutama semenjak Kak Lara…”

“Sisy!” aku bentak dia.

Sisy mengigit bibirnya merasa bersalah. “Sori Kak.” dia menutup mulutnya rapat-rapat. Memang mulutnya selalu punya kebiasaan lupa dengan siapa dia bicara.

Djima sadar kalau dia hampir mendengar topik yang sensitif dan untungnya dia peka, dan tidak bertanya lagi pada Sisy. Dia fokus menyetir mobil melewati rintik-rintik hujan yang menemani perjalanan kami.

 

***

 

Akhirnya aku bisa bernapas lega. Ketika aku membuka pintu, Kakek dan Paman sudah ada di depan pintu. Kakek berjalan dengan tergesa-gesa. Meskipun dengan susah payah, tapi Kakek tetap berjuang mencapai aku.

Aku memeluk Kakek. Menghirup aroma masakan dari pakaiannya. Cuman melihat Kakek aku bisa merasa tenang. Setelah kehilangan Nenek, aku merasa hancur.

Lihat selengkapnya