Setelah ‘aman’ aku turun ke ruang makan sekitar jam empat sore. Tidak ada tanda-tanda Djima masih ada di rumah. Akhirnya dia pergi juga. Setidaknya Kakek tidak memaksaku untuk turun dan makan bersama mereka. Tapi selama mereka makan, aku bisa mendengar canda tawa dari ruang makan. Aku juga mendengar suara Djima yang sangat nyaman bersama yang lainnya. Bagaimana bisa ada orang yang bisa dengan secepat itu dekat dengan orang asing?
Aku mana mungkin bisa melakukannya.
“Lara,” panggil Paman yang baru keluar dari dapur. Paman datang dengan membawa satu bungkus popcorn dan es kopi di kedua tangannya.
“Paman mau nonton? Kakek mana?”
“Kakek di menara,” gumam Paman. “ayo, daripada kamu di rumah, mending kamu ikut nonton. Hari ini film romantis. Banyak anak muda yang lagi pacaran beli tiket.”
Film romantis paling aku benci sampai detik ini. “Ehm, nggak deh, Paman. Aku nungguin Mama pulang aja.”
Paman seperti ingin mengatakan sesuatu yang lain tapi dia mengurungkan niat. “Mama kamu bakal pulang malem sama Misya. Nggak ada orang di rumah. Mbak Iyem juga bakal pulang malem. Kamu mending ikut aja. Bawa buku kamu kalau bosen. Lagian Kakek bakal butuh bantuan di menara.”
Akhirnya mau tidak mau aku naik dan mengambil jaket, buku, dan satu botol mineral dan langsung lari ke bawah lagi. Bersama Paman, kami keluar rumah setelah mengunci pintu.
“Gimana tangan kamu, Ra?”
“Obat pereda sakitnya bener-bener penyelamat. Nggak tau apa yang bakal terjadi kalau aku nggak minum obatnya. Mungkin aku bakal ngerasain hal kaya dulu lagi.”
Paman melihatku dengan sedih. Paman orang yang santai dan selalu suportif, tidak pernah memaksa keponakannya ini untuk melakukan sesuatu yang aku tidak suka.
Sebenarnya semua di keluargaku juga seperti itu. Mereka tidak pernah memaksaku. Mungkin bagi mereka, melihatku bisa makan dan hidup saja itu sudah anugerah bagi mereka. Dulu mereka harus menemani masa-masa aku yang paling kelam. Jadi mereka mereka pasti bersyukur setidaknya aku masih bisa menjalani hari dengan normal.
“Nggak apa-apa, Ra. Jalani aja semuanya satu demi satu. ‘Naikin tangganya’ pelan-pelan,” Paman menyarankan.
Aku tersenyum kecil. “Paman jadi lebih bijaksana setelah...”
“Setelah cerai. Mantan Tante kamu memang bikin Paman sadar,” cetus Paman sambil memikirkan lagi hidupnya di kepalanya sendiri.
Kami melewati pekarangan taman belakang yang luas dan memasuki area kolam ikan emas kesukaan Mama. Berjalan di atas jembatan buatan dan aku bisa menghirup udara segar dari sini.
“Djima ternyata nggak punya Ayah lagi, Ra.”
Fakta yang keluar dari mulut Paman Banyu menghentikan langkah aku. “Paman tau dari dia?”
“Bukan, Arman yang bilang. Dia tadi mampir. Dia kasih tau kalau mereka bakal sekarang tinggal rada jauh. Mungkin dia bakal sering mampir karena dia sudah nggak banyak kenal sama orang.”
“Dia balik ke Bogor sama orangtuanya?” tanyaku sambil berusaha mengingat wajah kedua orangtua Arman. Tapi wajah mereka sepertinya aku tidak terlalu ingat.
“Ya. Katanya kapan-kapan dia bawa orangtuanya ke sini,” kata Paman dengan santai. “Oh ya, mungkin dia bakal ajak Djima juga.”