Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #12

#12 - Kursi Nomor Tujuh


Delapan belas tahun yang lalu

Mereka mengeluarkan aku dari lemari. Dengan pandangan yang sangat buram sambil mereka memegang dua lenganku, aku kembali ke kamar awal. Pemandangan yang cukup berbeda aku dapatkan. Ada kasur di lantai lengkap dengan bantal. Tapi kasur itu terlalu tipis, aku tidak tau apa bedanya dengan tidur di lantai.

Pria pertama mendorongku hingga aku terduduk di kasur itu. Wajahnya yang paling seperti iblis dibanding dua lainnya, melihatku dengan rasa jijik. “Kamu bisa-bisanya teriak dari dalem lemari, untung aja kami udah antisipasi. Kalau mereka sampai tau kamu ada di dalam, kami juga bakal kurung mereka di sini.”

“Bisa-bisanya mereka datang cuman berdua. Kita bisa ngalahin mereka secepat kilat,” kata pria ketiga yang baru kali ini aku liat. Gaya pakaiannya yang seperti orang kantoran yang rapi ternyata cuman kedok saja.

“Mereka jangan-jangan suruhan orangtua kamu, dek.” Si pria pertama menyentuh poniku yang basah.

Aku mundur untuk menghindar dari sentuhan pria bejat ini. Aku tidak ingin disentuh siapapun. Tidak mau walaupun hanya sentuhan biasa.

Sambil berusaha mengumpulkan udara yang tidak aku dapatkan di dalam lemari mengerikan itu, aku ingin tau bagaimana status hidup aku di tangan mereka. “Kalian ma…mau…duit? kami bukan orang kaya.”

Keduanya bertatapan setelah mendengar aku bicara. Pria ketiga melepaskan kacamata. “Dek, masalahnya orangtua kamu udah sepakat buat kasih nominal yang kita mau. Jadi kalau kamu bilang kamu nggak punya uang, ya berarti kamu bohong.”

Mereka sudah sepakat?

Sejumlah uang yang seberapa banyak?

Apa mereka jujur?

“A…apa yang mereka bilang lagi?”

Pria pertama malas basa-basi. “Kenapa? kamu mau tau mereka nanyain kabar kamu? kamu pikir kita kasih kamu kasur kaya gini karena baik? Ckck…kita harus balikin kamu dalam kondisi baik. Itu aja.”

Kondisi baik?

Tanganku yang lebam justru semakin sakit karena hantaman itu. Untung saja waktu itu pria kedua menyela kekejaman pria pertama. Mereka harus berdiskusi sesuatu jadi luka yang aku rasakan tidak fatal.

Tidak fatal bukan berarti tidak membekas dan tidak memberi efek. Aku takut jika terjadi sesuatu dengan tanganku. “Apa kalian bisa panggil Dokter buat liat kondisi tangan…perbannya harus diganti.”

Pria pertama berjongkok lagi. “Jangan banyak mau. Kamu doa aja keluarga kamu nggak bohong. Karena kalau sampai ternyata keluarga kamu bohong. Kamu bakal dapat hal yang lebih parah daripada yang tangan kamu dapetin.”

Bibirku bergetar. Pria itu melihatnya. Tersenyum karena berhasil membuat aku kembali takut dengannya.

Semoga keluarga aku bisa melakukan sesuatu.

Karena hidupku seperti punya batas waktu seperti jarum detik di sebuah jam. Menunggu untuk habis pada waktunya…

 

Masa Kini

Teman?

Lihat selengkapnya