Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #13

#13 - Tamu Hati

#13 – Tamu Hati

 

Dokter Reyhan melihat hasil MRI dengan seksama. Hal yang membuat aku semakin khawatir. Kemarin saat malam, rasa sakitnya luar biasa. Mungkin karena kelelahan, bisa jadi rasa sakitnya jadi fatal.

“Tulang kamu bergeser, jadi ini pengaruh dengan syaraf yang ada di tangan,” Dokter Reyhan menjelaskan sambil memperlihatkan gambar yang sedang dia bicarakan. “karena kamu jatuh seperti itu, wajar kalau memang terjadi pergeseran. Kamu harus ikut terapi supaya tangan kamu cepet sembuh.”

Aku hanya bisa mengangguk. Seperti dulu, syarafku juga ikut terdampak.

Ulfa memegang tanganku dari sebelah. Dia tersenyum untuk menyemangatiku.

Tapi bukan hanya Ulfa yang ada di ruangan kami. Djima sampai lebih dulu dari kami. Dia duduk di ujung ruangan dan karena aku menghargai Dokter Reyhan, aku menahan diri untuk tidak mengusir dia.

“Dokter Mira sudah bilang pada saya,” Dokter Reyhan melihat Djima sebentar dan kemudian mengecilkan suaranya. “meskipun kamu cedera di tempat yang sama, kamu jangan khawatir, saya akan bantu kamu pulih secepatnya. Walaupun Dokter Mira nggak cerita, saya bisa melihat perbedaan posisi tulang kamu.”

Dokter Reyhan sudah tau. Dokter Mira mungkin terpaksa melakukannya. “Apa penyembuhannya selama…selama yang satunya?” ucapku dengan suara kecil supaya Djima tidak mendengarnya.

“Seharusnya ini jauh lebih cepat. Tenang saja, Clara. Yang terpenting kamu nggak boleh tertekan, kamu pergi liburan, santai-santai, supaya badan kamu juga rileks. Syaraf butuh kondisi yang rileks buat pulih.”

Perkataan yang sama yang aku terima delapan belas tahun yang lalu. Penyembuhan yang tidak mudah dijalani dan dilewati. “Kapan kita bisa mulai?”

“Kita bisa mulai besok, Clara,” kata Dokter Reyhan.

“Rasa sakit yang saya rasain cuman sedikit kali ini, itu pasti karena obat pereda rasa sakit. Saya nggak bisa bayangin kalau saya stop minum obat itu.”

“Pakai obat rasa sakit itu dengan bijak. Kalau kamu merasa bisa tahan, coba kamu lepas pelan-pelan. Tapi ingat, jangan karen kamu menghindari minum obat itu, kamu jadi nyakitin diri kamu sendiri,” lanjut Dokter Reyhan.

“Dok,” panggil Djima dari belakang. “apa ada pantangan buat Clara?”

Aku menutup mata. Untuk apa lagi dia ikut campur?

“Soal pantangan makan nggak ada. Tapi kebiasaan Clara harus di ubah. Clara nggak boleh angkat barang berat dan lakuin pekerjaan berat selama ini masih belum sembuh total.”

Seperti dulu lagi. Padahal semuanya sudah jadi lebih baik. Aku sudah kembali ke semula. Tapi gara-gara pertengkaran keluarga antara Djima dan adiknya yang buronan itu, aku jadi seperti ini. Aku benar-benar tidak beruntung.

“Kalau gitu boleh aku pulang, Dok?”

Dokter Reyhan tersenyum. “Besok kamu boleh mulai terapi sama Sus. Nina ya. Dia perawat senior, tenang aja. Kamu bakal jauh lebih enak setelahnya.”

Masalahnya aku tau betapa menyakitkannya terapi fisik.

Lihat selengkapnya