Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #14

#14 - Tidak seburuk yang kukira

#14 – Tidak seburuk yang kukira

 

Aku membersihkan diri di kamar mandi, mengganti pakaian dan bersiap untuk mengecek perlengkapan strata dua di dalam kamar. Tapi sayangnya seseorang mengetuk dan meminta ijin masuk.

“Kak,” suara Misya berada dibalik pintu.

Apa mereka belum selesai makan siang?

Aku dengan rasa malas membuka pintu dan mendapati Misya yang sedang bersandar. Dia lega aku membuka pintu.

“Kak, kita lagi makan kue yang dibeli sama Djima.”

“Terus?”

Misya menghela napas. “Memang Kakak nggak suka dia ada di sini, tapi Kakak harus tau kalau dia yang bantuin Mama sama aku ngurus masalah rumah ini. Dia panggil pengacara dia secara gratis.”

“Apa? masalah rumah ini aja kalian belum cerita. Kenapa dia udah tau duluan?”

“Ceritanya panjang Kak. Kita belum sempet cerita semalem karena Kakak udah tidur. Ini masalah Papa mau ambil alih rumah ini secepat mungkin. Papa udah nggak sabar kayanya.”

Dasar keterlaluan. Orangtua macam apa yang mau usir anak-anaknya?

“Apa rumah kita bakal diwarisin sama anak itu?”

“Raka? nggak tau soal itu. Tapi Papa orangnya nggak bisa diprediksi.”

“Kok bisa pengadilan masih ijinin Papa buat banding soal asset?”

“Nggak tau juga, Kak. Nggak ngerti. Untungnya pengacara Djima banyak bantu. Jadi kita bisa tidur nyenyak semalem,” kata Misya yang merasa baru lewat dari mimpi buruk.

Kenapa keluargaku kembali mendapat drama terus?

Misya memegang pundakku. “Seenggaknya Kakak turun, kita nggak enak sama Djima. Kayanya dia ngerasa Kakak nggak nerima dia di sini. Mama jadi ngerasa bersalah.”

Masa iya aku harus berteman karena merasa berterima kasih?

Tapi mendengar Misya yang tidak mungkin berbohong, aku harus menahan egoku dan setidaknya membuat Mama tidak kehilangan ‘muka’.

Misya berjalan terlebih dahulu. Ketika aku berjalan di tangga, ruang makan benar-benar hidup. Kakek dan Paman sedang bercanda dengan Djima. Mama sibuk menaruh potongan kue di depan semua orang. Sisy tidak terlihat sama sekali.

Djima sadar dengan cepat ketika aku turun ke bawah. Dia tersenyum melihatku. Setelah aku lari tadi, dia masih bisa tersenyum?

Mama memegang tanganku dan menyuruhku duduk di sebelah Djima. Aku tidak bisa menolak. Sama sekali tidak bisa. Mama sedang dalam suasana hati yang bagus. Tersenyum sambil mondar-mandir ke dapur.

Kakek menaruh cangkir kopinya setelah bicara dengan Djima. “Lara, besok Misya sama Kakek bakal bantu kamu terapi ya, Kakek mau nemenin kamu di sana.”

Aku mengangguk. Lega karena aku tidak sendirian. Tapi sejak dulu memang keluargaku tidak pernah absen. Mereka selalu hadir di setiap hal-hal yang tidak nyaman dihidupku. Mungkin banyak orang yang melhat aku tidak mandiri. Tapi mereka tidak tau kenapa aku seperti ini…

“Makasih lagi ya nak Djima, kamu udah bantuin kami. Kami nggak tau tiba-tiba Papanya dengan cepet ngelakuin ini,” ucap Mama yang berdiri di belakang Kakek. “apa kamu yakin kita nggak perlu bayar pengacara kamu? masalah ini belum selesai loh.”

Djima duduk dengan santai. Mulai ‘melebur’ dengan keluarga kami dengan cepat. “Nggak apa-apa, Tante. Lagian pengacara ini teman aku. Dia juga lagi belum ada kasus baru. Tenang aja.”

Kenapa dia terlalu baik? ada maksud terselubung?

Lihat selengkapnya