Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #15

#15 - Tamu tak diundang

#15 – Tamu tak diundang

 

Semua orang berkumpul untuk makan malam. Mereka menunggu aku pulang dari terapi kedua dari rumah sakit. Misya dan Sisy bergantian menemani aku lima hari terakhir ini. Baik saat aku terapi mandiri di rumah atau pergi ke rumah sakit, mereka selalu ada.

Untuk hal ini aku beruntung punya mereka berdua.

Aku beruntung memiliki keluargaku. Meskipun keluarga kami tidak sempurna, tapi setidaknya aku memiliki mereka.

Ruang makan berisik dengan suara mereka yang silih berganti sejak kami mulai makan. Kami punya aturan kalau selama makan bersama, kami tidak boleh memegang handphone. Sangat sulit dilakukan tapi akhirnya kami bisa melakukannya. Tapi konsekuensinya semua orang jadi berceloteh dari kursi mereka masing-masing.

“Tari, Papa denger kamu mau mulai kerja jadi akuntan di perusahaan baru itu ya?” Kakek bertanya ke Mama.

Kami semua terkejut. Semuanya menatap Mama. Mamaku yang selama beberapa hari terlihat lelah, akhirnya terlihat lebih bahagia ketika topik ini muncul. Sudah beberapa bulan Mama memang sibuk mengurus rumah saja setelah keluar dari pekerjaan lamanya. Mama yang terbiasa aktif bekerja akhirnya bisa sumringah lagi setelah mendapat kabar baik ini pastinya.

“Iya, Pa. Kayanya sih tempatnya cukup bagus. Nggak ada salahnya aku kerja lagi. Banyu juga sekarang juga udah bisa bantu Papa kan di rumah,” kata Mama. “lagian Banyu harusnya bisa cari kerja lain.”

Paman Banyu menaruh sendoknya. “Kak, aku suka kok bantu Papa.”

Mama menatap adiknya penuh makna. “Nyu, kamu harus inget kita butuh duit buat rumah sama bioskop. Mana tiket selalu dipotong harganya sama Papa.”

Kakek bantuk beberapa kali. “Kalau nggak Papa potong harganya, siapa yang mau nonton, Ri?”

Mama menggeleng karena tidak sepaham. “Pa, kita sudah lama juga punya bioskop itu. Aku Papa nggak mau lebih santai?”

“Bioskop itu kebahagiaan Papa.”

Mendengar pernyataan itu semua orang terdiam. Semua masuk ke dalam kepala masing-masing. Membayangkan kebahagiaan mereka dihidup ini. Contohnya Misya yang sedang bermain-main dengan lauk di depannya, dia pasti sedang memikirkan tentang keinginan dia menjadi pengacara yang sudah lama dia dambakan. Tapi apa daya, dia sekarang harus jadi bagian administrasi dari pagi sampai malam.

Lalu Paman Banyu, seorang duda yang pada saat diceraikan istrinya, mereka memang belum dikaruniai keturunan. Paman yang tadinya kerja di Jakarta, sekarang kembali ke Bogor dan malas keluar rumah karena jadi gunjingan tetangga.

Kemudian ada aku. Aku yang sama sekali tidak memberikan kontribusi apapun pada keluarga ini. Sejak remaja hanya membuat mereka susah. Tapi mereka tidak pernah mengeluh di depanku. Mereka tidak pernah menekanku. Mereka selalu bahagia jika ada satu hal positif yang aku lakukan meskipun itu hanya hal sederhana.

Kenapa aku baru sadar sekarang? apa selama ini aku terlalu fokus sama diriku sendiri? terlalu masuk di dalam penderitaan yang aku alami sehingga aku tidak sadar jika yang lain juga menderita?

Tapi mereka tidak menunjukkannya. Mereka tetap tersenyum dan menghadapi kerasnya hidup. Sekaligus menjadi tempat bersandar bagiku.

Aku harus melakukan sesuatu.

Mungkin mencari pekerjaan di luar sana?

Selama ini aku hanya mencari pekerjaan secara daring.

“Oh ya,” Sisy berkata dengan suara lantang. Wajahnya merona bahagia. “aku bakal kerja mulai minggu depan.”

“Beneran?” Paman Banyu tidak percaya.

Lihat selengkapnya