Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #16

#16 - Secercah harapan

Delapan belas tahun yang lalu

 

Tanganku merasa sakit yang luar biasa. Rasa terbakar, rasa seperti dicengkram, dan terasa menyakitkan saat digerakan. Aku mengerang sekuat tenaga supaya mereka tau kalau aku butuh pertolongan tapi sia-sia.

Aku hanya bisa merasakan sakit itu dalam kegelapan dan kesendirian. Menit berlalu. Bahkan terlalu lama hingga aku tidak tau sudah berapa lama aku menunggu mereka masuk.

Hingga akhirnya pria pertama masuk.

Memiringkan wajahnya ketika melihat aku meringkuk. Tidak ada rasa bersalah sedikitpun, justru dia merasa bahagia. Apa ada kabar baik untuk dia lagi kali ini?

“Sakit?”

Pertanyaan yang dilontarkan tanpa empati sama sekali.

Aku mengangguk . Salah satu mataku tertutup rambutku yang sudah kacau dan tidak rapi sama sekali. Badanku mengeluarkan aroma tidak sedap karena tidak mandi untuk satu minggu. Fisik dan kepalaku sudah remuk. Aku tidak tau apa aku bisa bertahan sebelum ada yang menyelamatkanku.

“Mama kamu setuju buat kasih kami uang sesuai permintaan kami. Tapi dia butuh waktu. Setelah dipikir-pikir Mama kamu sepertinya lebih sayang sama kamu dari Papa kamu.”

Hatiku hancur. Diledek oleh penculik ini adalah hal yang paling menyakitkan dan memalukan.

“Karena aku hari ini lagi berbaik hati, aku bakal panggil Dokter. Tapi inget, jangan lakuin sesuatu. Kita bakal bikin kamu nyesel nanti.”

Pria itu keluar. Sekitar satu jam kemudian seorang Dokter wanita datang. Dokter yang berbeda.

Dokter itu masuk sendirian. Tapi pintu dibuka lebar. Aku tau kalau aku berlari ke luar, aku juga tidak akan selamat. Dokter wanita itu ternyata sama ketakutannya denganku di sini. Dia masuk dengan wajah seperti patung, tidak banyak bicara. Tapi dia membuka ikatan di mulutku untuk memberikan pelembab di bibirku.

Dokter itu berbalik untuk melihat pintu dan saat melihat keadaan sedang aman, dia berbisik dengan suara sangat kecil dan bergetar. “Dek, salep kamu sudah habis makanya kamu sekarang ngerasa sakit. Untung aja pukulannya nggak lebih banyak, kalau nggak tangan kamu bisa lebih parah.”

Ya, untungnya tanganku masih bisa bergerak. Untung dia tidak melanjutkan kekerasan dia lebih lama waktu itu. Tapi itu semua tidak berarti semuanya aman. Aku merasa ada yang salah dengan tanganku.

Dengan suara yang tidak ada kekuatan sama sekali, aku bertanya. “Tapi Dok, a…apa tangan aku bakal ada bekas luka?”

“Bukan bekas luka. Tapi yang saya takutin itu tulang kamu bergeser. Krim kemarin cuman bikin kamu hilang rasa sakit. Makanya sekarang saya mau balut kamu pakai papan buat tangan. Supaya tulangnya balik lagi.”

Air mataku jatuh di depan Dokter itu. “Tolong tangan saya, Dok.”

Dokter itu berkaca-kaca. “Saya bakal bantu kamu semaksimal mungkin.”

Lihat selengkapnya