Mama duduk di ujung ruangan tempat terapi sambil membaca majalah. Sementara aku sedang duduk sambil istirahat setelah terapi pertama. Melelahkan? Ya. Sakit? Ya. Seperti mengulang hal yang sama seperti dulu lagi. Rasa nyeri dan terbakar menjadi satu. Tapi Dokter terapis mengatakan kalau semuanya lebih baik dibanding sesi-sesi sebelumnya.
Dokter Mira datang berkunjung saat sesi lampu terapi dimulai. Dengan memakai jas Dokternya dan masih memakai sarung tangan, Dokter berbicara dengan perawat disebelahku.
“Apa ototnya jauh lebih baik, sus?”
Perawat bernama Ira itu mengangguk. “Tenang aja, Dok. Karena Lara rajin stretching sendiri di rumah, jadinya kita nggak sulit.”
Tanganku mulai terasa hangat berkat sinar lampu berwarna merah itu. Tidak terlalu panas jadi aku masih merasa nyaman. Tapi walaupun fisikku ada disini, kepalaku justru ada ditempat lain.
Kepalaku seperti benang kusut.
“Ra,” Dokter Mira memanggil dan duduk di kursi. “jangan pikir berlebihan. Fokus aja sama proses di sini.”
Dokter Mira sudah seperti cenayang yang membaca gerak-gerik pasiennya. Termasuk Djima.
Aku menutup mata dan menggeram dalam hati. Kenapa aku berpikir tentang dia lagi? aku harusnya lega dan bahagia tidak melihat dia lagi.
Dokter Mira masih belum beranjak dari kursi. Malah membawa pembicaraan lain setelah perawat meninggalkan kami berdua dan Mama pergi membeli minuman. “Saya dengar adek kamu bakal kerja sama Djima ya?”
Dokter kenapa bisa tau? “Ehmmm, iya.”
“Djima bilang sama saya, Ra. Dia bentar lagi mau acara pembukaan. Nggak jauh tempatnya dari rumah sakit ini.”
Aku tidak perlu tau lebih dalam. Fakta bahwa Sisy kerja disana dan setiap dua puluh menit selalu cerita soal Djima sudah membuatku sesak napas. Kenapa semua orang tergila-gila dengan Djima? dia tampan? aku harus akui memang dia tampan dan menarik. Mayoritas alasannya pasti karena itu.
Dokter Mira memberikan tatapan yang dalam. “Dokter minta kamu bisa mengerti kalau Dokter ada cerita soal kamu dengan Djima.”
“Soal itu, Dokter harusnya tau kalau hidup aku itu privasi, bukannya sebagai Dokter, harus menjaga privasi itu dari orang lain.”
“Saya tau,” kata Dokter Mira dengan seperti tidak punya pilihan. “masalahnya Djima juga bergelut sama trauma dia sendiri. Saya harus nenangin dia kemarin. Kalau dia muncul di depan kamu dalam keadaan periode trauma dia muncul, itu bakal fatal, Ra. Seperti kamu yang punya Antropophobia, Djima juga punya traumanya sendiri.”
Pintu hatiku seperti terketuk. Bukan hanya aku yang gelisah dan dalam kebingungan dalam hidup. Djima yang terlihat kuat secara fisik dan visual saja ternyta bisa sangat terlihat rapuhnya di depan Dokter Mira.
Kami bisa didefinisikan dengan kata yang sama. Rapuh.
Aku ingat dia melihat aku seperti ‘rumah kaca’.
Dokter Mira melanjutkan lagi. “Abandonment trauma, Compulsive disorder, fear of losing control, dia punya semuanya, Ra.”