Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #18

#18 - Janggal


Semuanya sibuk makan. Arman dan Sisy sumber memeriahkan suasana di ruangan. Sisy benar-benar bahagia setelah aku benar-benar amati. Rasanya kalau aku melarang dia bekerja di sini, aku berarti egois. Kita butuh pemasukan.

Sepanjang makan bersama yang melelahkan dan sangat canggung untuk aku dan Djima yang lebih banyak diam walaupun duduk bersebelahan, Djima selalu melakukan hal-hal yang janggal.

Mengupas udang dan menaruhnya di piringku. Memastikan piringku selalu terisi, memastikan cangkirku selalu terisi, dan tidak lupa selalu memastikan aku duluan yang menyantap lauk yang enak di meja itu. Semua yang dia lakukan tidak luput dari tatapan semua orang terutama Sisy yang menahan cekikikannya dari sorot matanya.

Meskipun aku sudah menghabiskan makanan di piringku tapi Mama masih tidak mau beranjak dari sana. Terlalu betah di sini yang berbanding terbalik dengan aku yang sudah tidak tahan buat pulang.

“Tante harus liat area taman indoor, cantik banget,” kata Arman.

“Oh ya, kalau gitu, ayo kita ke sana.”

Ketika aku beranjak mau ikut mereka. Arman bilang. “Lu di sini aja sama Djima. Disitu bahaya, ada banyak barang bangunan.”

Dengan terpaksa aku duduk lagi dan melihat mereka pergi. Kecanggungan dan keheningan benar-benar terasa. Aku bukan orang yang bisa mengatasi kecanggungan dengan orang lain.

Tapi Djima sepertinya menemukan keberanian buat memulai pembicaraan. “Kamu udah mendingan, Clara? maaf kalau aku nggak nemenin kamu terapi.”

Aku teringat omongan Dokter Mira yang meminta Djima menjaga jarak. Melihat ekspresi pernyataannya tadi terdengar dia terpaksa melakukannya. Sepertinya apa yang dibilang Dokter Mira benar.

“Nggak masalah, aku bisa sendiri. Aku bisa ngelakuin semuanya sendiri.”

Djima menatap sedih.

Kenapa dia sedih?

“Gimana kalau selanjutnya aku temenin kamu?” tanya Djima dengan penuh harapan. Lebam di wajahnya pun juga sudah memudar. Sekarang aku bisa melihat dengan jelas rahangnya yang kuat dan hidungnya yang tinggi.

Bagaimana kalau aku menolaknya? dia bakal merasa bersalah lagi?

“Aku juga mau jadi temen kamu, Clara. Kamu nggak lupa kan? aku nggak punya banyak temen di sini.”

Aku juga tidak punya teman. Dua orang seperti kami berteman sudah salah besar. Tapi melihat kebaikan Djima menerima Sisy di sini, aku bisa dicap orang jahat sama satu keluarga aku.

“Tenang aja, aku bakal ngeliat dari jauh aja. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman aku terlalu deket di ruang terapi nanti.”

Apa yang harus aku lakukan?????!

Aku menarik napas panjang sebelum menjawab dia. “Pertama gue mau bilang makasih dulu karena lu udah bantuin Mama sama Sisy. Sebenernya lu nggak perlu bantuin kita sampe sejauh ini.”

Djima merasa lega. Dahinya tidak terlalu berkerut seperti sebelumnya. “Kamu nggak perlu terima kasih. Aku suka ngebantu keluarga kamu. Keluarga kamu, keluarga yang baik, Clara.”

Aku mendengar rasa sedih itu lagi. Seperti nada kesedihan karena dia sendiri merasa sangat senang bisa mengenal kami. Atau mungkin dia punya masalah keluarga?

Sudah jelas adiknya bukan orang yang sebaik dia.

“Seandainya aku punya keluarga seperti kamu,” ucapnya pilu. Matanya tidak berkaca-kaca tapi aku merasa hatinya yang menangis.

Lihat selengkapnya