Djima dan Arman ikut kami pulang. Aku melihat mobil mereka dari spion. Mereka mengikuti kami dari belakang. Djima yang memaksa untuk ikut ke rumah. Setelah aku tenang, kami turun dan Djima selalu berjalan di belakangku. Memastikan aku tidak jatuh.
Aku bisa melihat wajah Djima yang sedang membawa mobil. Mata kami bertemu sejenak sebelum Djima kembali fokus ke jalan di depannya.
“Kak, Kakak udah baikan?” tanya Sisy setelah diam sejak tadi.
Aku mengangguk. “Kakak nggak apa-apa, kok. Sudah biasa kaya gini.”
Aku selalu merasa letih setiap kali serangan panik selesai. Rasanya ingin tidur dan tidak memikirkan apa-apa. Tapi sayangnya di rumah sudah menunggu masalah baru. Aku berdoa semoga Kakek aman-aman saja.
“Kamu cerita sama Arman soal Kakak?” tanyaku merasa sedih.
Sisy dari spion terlihat bingung menjawab apa. “Aku cuman cerita kalau Kakak dalam kondisi yang kurang baik aja. Aku nggak cerita masalah lain, Kak. Tapi kayanya Kak Djima udah minta Arman jangan terlalu banyak tanya. Kak Djima memang pengertian.”
Iya. Dia pengertian. Karena dia juga punya ‘ketakutan’ di dalam dirinya. Dia juga punya masalah di hidupnya dan dia mengerti bagaimana beratnya melewati ketakutan diri sendiri.
Kami sampai. Mama bergegas masuk duluan. Sisy membantu aku turun. Saat Djima dan Arman keluar dari mobil, Djima mengambil inisiatif.
“Man, lu sama Sisy masuk dulu. Gue jagain Clara di sini.”
Arman tidak banyak bertanya dan pergi bersama Sisy ke dalam. Sementara aku berdiri melihat rumah kesayangku ini. Tidak menyangka kalau Papa masih punya obsesi untuk memiliki rumah ini. Rumah yang cukup bernuansa kuno untuk ukuran rumah-rumah minimalis sekarang.
“Kamu mendingan duduk dalem mobil aja. Tenang, aku nggak bakal ninggalin kamu,” saran Djima.
Aku sadar masih letih. Aku kembali duduk dan membiarkan pintu terbuka. Djima mengambil sesuatu dari mobilnya. Sebuah selimut tebal dan menaruhnya di pangkuanku. Dia memakaikannya tanpa menyentuhku sama sekali.
Sebenarnya kami sudah ‘bersentuhan’. Tangannya menopang dahiku supaya tidak terluka. Hal kecil tapi aku benar-benar menghargainya.
Lalu Djima bersandar di luar mobil. “Kamu jangan pikirin masalah di dalem. Biar mereka aja yang atasin masalahnya.”
Mulutku bergerak. Entah kenapa aku penasaran dan ingin bertanya. “Lu…lu juga pernah ngalamin serangan panik?”
Djima cukup lama diam. Tapi akhirnya dia mengeluarkan suaranya lagi. “Ya. Dulu sering banget. Sampe aku mikir kalau aku bener-bener ngerasa nggak beruntung. Punya ketakutan yang cuman aku sendiri yang rasain. Aku nggak bermaksud sombong tapi aku bisa ngalahin orang secara fisik dengan gampangnya. Tapi hati aku, terlalu berat buat dimengerti orang lain.”
Aku masih mau tau hal lain. Mulutku tidak bisa berhenti walaupun suaraku lemah. “Termasuk, se…sesak napas?”