Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #20

#20 - Aku masih hidup. . .


Delapan belas tahun yang lalu…

Kamar lebih dingin dari biasanya. Hari demi hari semakin lembab dan aku sama sekali tidak tau apa yang harus aku lakukan supaya aku menjadi lebih hangat. Karena itu aku tidak bisa tidur. Aku terbangun terlalu cepat karena pikiranku kacau.

Tidak lama setelah itu, di luar dugaan, pintu di buka seseorang.

Ternyata itu pria pertama. Dia terkejut melihat aku sudah bangun. Mungkin dia berharap aku terbangun lebih siang.

Kenapa dia datang pagi-pagi?

“Kamu bakal pulang hari ini. “

Pulang? apa iya aku akan pulang? apa mungkin ada hal lain yang dia rencanakan? Apakah jangan-jangan aku bisa pulang hidup-hidup? atau sebaliknya?

Pria pertama mendesis. “Kamu keliatan nggak seneng. Kamu bakal pulang. Dasar, anak aneh.”

Aku sudah tidak terluka lagi mendengar itu. Cacian dan hinaan sejauh ini sudah menjadi makanan sehari-hari. Apa kepalaku dan hatiku sudah tidak beres? sampai-sampai tidak ada lagi rasa sakit mendengar itu?

Pria pertama berjalan dan bersandar di dinding. Dia terlihat sudah menang. Kemenangan ada di wajahnya yang bersinar. “Mereka bakal bawa duit dan kita bakal kasih mereka anak kesayangan mereka. Nggak, kesayangan Mama kamu, bukan Papa kamu. Dia nggak perduli sama kamu.”

Lagi-lagi kepedihan tidak terasa lagi. Rasanya harapan di hati aku tidak boleh terlalu aku genggam erat-erat. Karena bisa saja takdir berkata lain, bisa saja ada drama lain dan aku tidak jadi keluar dari sangkar iblis.

“Tapi aku denger kamu ngelakuin sesuatu di belakang kami. Itu yang mau aku bahas.”

Apa?

Pria pertama murka. Wajahnya berubah warna. Mungkin dia sudah menundanya dari awal. “Dokter kemarin akhirnya ketauan. Dia bermaksud baik mau bantuin kamu tapi ternyata dia lupa kita semua nggak sebodoh itu.”

Aku meminta tolong sama Dokter yang terakhir merawat aku. Dia bilang dia bakal berusaha supaya bisa dapat pertolongan dari pihak berwajib. Hanya dengan secarik kertas, aku berharap Dokter bisa memberitahu kepolisian.

Tapi nyatanya mereka lebih licik!

“Karena itu aku bakal kasih kamu hadiah yang setimpal.”

Hadiah?

Aku menggeser badanku. Menjauh darinya. Meskipun aku merasa orang paling menyedihkan di dunia ini, tapi aku tetap melakukannya. Insting bertahan hidup itu masih hidup di dalam otakku.

Manusia lemah ini.

Pria itu menarikku. Aku menjerit. Aku menatap pintu yang terbuka itu berharap ada yang datang. Tapi sepertinya tidak ada yang datang. Semuanya masih tidur dan di dalam alam bawah sadar mereka.

Siapa yang bakal menyelamatkan aku?

“Mau manggil kamu, Ha?!” teriak dia di kupingku. “mulut kamu di tutup! dasar anak bodoh!”

Lihat selengkapnya