Hari ini persis pembukaan tempat gym milik Djima. Semua anggota keluargaku diundang sama Djima termasuk aku. Meskipun aku menolak seribu kali tadi pagi, semuanya bersikeras memintaku datang. Alasannya karena Djima sudah banyak menolong kami. Kedua, datangnya kami semua juga mau mendukung Sisy.
Misya memegang lenganku karena dia tau aku pasti sangat tidak nyaman dengan keramaian. Sepertinya semua orang Bogor hadir buat acara pembukaan ini.
Semua karyawan mereka memakai pakaian yang sama. Berwarna emas. Menyambut semua orang dengan senyuman ‘sepuluh sentimeter’ mereka. Beberapa karyawan ditugaskan untuk menemani tamu undangan dan menjelaskan paket-paket yang akan dijalankan di tempat ini.
Aku berusaha mencari sudut ruangan yang sepi tapi nyatanya tidak ada satu ruang kosong sedikitpun.
Djima, Arman dan Sisy datang dari lantai tiga saat kami ada di lantai dua. Mataku terpaku pada Djima yang memakai jaket kulit yang berkilau. Aura memimpin dari dia begitu terpancar. Mungkin aku berlebihan, tentu saja dia terlihat seperti itu, dia yang punya tempat itu bukan?
Mata kami bertemu. Dia tersenyum seperti seorang Djima biasanya. Terkadang aku bingung kenapa dia begitu baik setelah perlakuan aku terhadap dia selama ini.
Dia menyodorkan tangannya saat yang lain sedang berbincang dengan Arman. “Selamat ulang tahun ya. Semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan tetep jadi temen aku buat waktu yang lama.”
Djima benar-benar terobsesi jadi teman aku. Berbanding terbalik dengan teman-teman aku dulu.
Lagi-lagi, mungkin karena kita sama-sama orang yang penuh dengan kepelikan hidup, dia merasa punya teman seperjuangan.
Aku menjabat tangannya. Lagi-lagi tangannya hangat. Sangat hangat. Dia dan udara Bogor seperti kutub utara dan selatan. Sangat berbeda jauh.
Djima bertanya hal lain. “Aku denger katanya kalian mau ke taman safari?”
Sisy memang tidak bisa menutup mulutnya. Dia selalu cerita sama semua orang. Jangan-jangan satu gedung ini tau kalau aku mau pergi. Dasar, Sisy! tidak bisa diajak kerjasama.
“Iya,” jawabku kecil.
“Oh ya, Clara, kita di sini ada kelas beladiri. Kalau nanti kamu berminta bilang aja. Nanti kamu bisa milih pengajarnya siapa. Ada pengajar cewek di sini buat anggota cewek.”
Ternyata tidak cuman tempat olahraga dan latihan saja di sini. Berarti tempat ini lebih bagus dari pada tempat lain. Karena dia menawarkan sesi latihan beladiri. Djima juga pintar berbisnis rupanya.
“Tenang aja, aku bukan buka tempat ini karena urusan materi aja,” ucap Djima tiba-tiba.
Mataku terbelalak. Dia bisa baca pikirian aku?
“Nggak ada yang bisa ngelarang lu bikin apa aja, kok.”
“Tapi wajah kamu bilang sebaliknya, Clara. Aku bisa baca semuanya.”
Aku cukup tersentil. “Lu nggak tau semuanya tentang gue.”
Djima mengangguk. Tidak ingin berkonfrontasi. “Maaf, Clara. Aku nggak bermaksud apa-apa. Cuman aku ngerasa bisa ngebaca kamu. Mungkin karena aku punya bakat jadi psikolog kali ya.”
“Mau gantiin Dokter Mira?” tanyaku.