Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #22

#22 - A good man?


Tidak ada percakapan yang terjadi setelah curhatan hati Djima lima belas menit yang lalu. Aku merasa Djima ingin aku ‘meresapi’ ceritanya dan berusaha memahami tanpa banyak bicara lagi. Meskipun dia bilang kalau Mamanya meninggalkan dia, tapi dia terlihat tumbuh besar dengan keadaan baik. Kepalaku berputar-putar memikirkan skenario apa yang terjadi pada Djima.

Kenapa aku begitu perduli? dia bukan siapa-siapa. Dia hanya laki-laki yang tidak sengaja muncul di kehidupanku dengan cara yang tidak biasa.

Membayangkan Djima sendiri di dalam hidupnya tanpa kasih sayang Mamanya bahkan diumur yang sekecil itu. Aku tidak bisa membayangkan berada di posisinya. Tapi aku tidak punya hak untuk bertanya lebih lanjut.

Djima berdeham kecil. “Kamu nggak mau tanya soal keluarga aku?”

“Gue nggak mau ikut campur urusan orang lain. Di dunia ini nggak ada orang yang sempurna. Wajar kita semua punya luka dalam hidup.”

Tangan Djima memegang setir dengan kencang. Mobil kami memasuki area hewan-hewan buas. Harimau salah satunya.

Aku melihat harimau berwarna putih yang sedang duduk dengan santainya. Melihat mobil kami seperti hal yang biasa yang sering dia temui sehari-hari. Beberapa harimau lainnya melintasi jalan dan kami terpaksa berhenti.

Napasku juga ikut tertahan melihat mereka.

“Kamu takut?” tanya Djima yang memperhatikanku dengan seksama. Sama sekali tidak ada nada gurauan di suaranya.

“Sedikit. Siapa yang nggak takut mereka? mereka raja hutan kan?”

Djima menarik minuman yang sudah dia siapkan untuk aku sebelumnya. Membukanya dan menyodorkannya. “Minum dulu. Kita masih lama di sini. Selama kita nggak ganggu mereka, mereka aman kok.”

“Itu belum tentu, Djima.” aku memutar bola mataku.

“Jadi bener mereka bilang, kalau jerapah memang favorite kamu.”

“Gue nggak sesuka itu sama jerapah. Jangan telen omongam mereka mentah-mentah.”

“Kamu sadar nggak kalau harimau itu sebenernya juga butuh cinta yang sama dengan yang lain. Kalau jerapah bisa nerima kasih sayang, harimau juga sudah sepantasnya dapet hal yang sama. Cuman karena mereka keliatan buas sama mengerikan, nggak ada yang mikir kalau mereka butuh cinta.”

Aku menatap mata harimau yang melintas di samping pintuku. Secara reflek aku menghindari dan sedikit bergeser. Hidungku semakin mencium aroma parfum milik Djima. Maskulin dan beraroma seperti dedaunan pagi di taman yang penuh dengan embun.

Entah siapa yang lebih membuatku takut. Harimau atau Djima?

Djima membetulkan selendang kain di atas pangkuanku. Sekali lagi tanpa menyentuhku sama sekali. Sikap yang membuatku sangat lega. Selain itu dia sangat perhatian dengan hal-hal detail seperti ini. Apa dia melakukan ini dengan orang lain juga?

“Tenang, dia bakal bisa ngerasain kalau kamu takut. Jadi dia bakal tetep mondar-mandir di pintu kamu.”

Aku melotot ke arah Djima. “Nggak perlu nakutin gue.”

Djima mengigit bibirnya. “Kamu bukannya udah sering ke sini? harusnya udah biasa kan?”

“Udah sering ke sini, bukan berarti gue sahabatan ama harimau, Djima. Harimau bukan jerapah.”

“Tuh kan jerapah lagi,” godanya.

Lihat selengkapnya