Dokter Mira meletakkan kacamatanya. Menulis resep baru untuk aku minum. Tapi kali ini obatnya hanya sedikit. Dokter tampak lebih bahagia dari suasana hatinya yang sering aku lihat.
“Saya denger kamu jalan-jalan sama Djima.”
Siapa lagi yang cerita? Djima? dia dan Sisy benar-benar bersaing untuk menjadi peringkat satu dalam kategori siapa yang paling tidak bisa menjaga rahasia.
“Itu nggak sengaja, Dok. Kebetulan aja kita pas ke pembukaan gym dia.”
Dokter Mira mengangguk tapi tidak percaya dengan alasanku. Wajahnya menolak setuju.
“Oh ya Lara, gimana kamu jadi ikut sukarelawan sama beberapa pasien saya lusa nanti? kita bakal ngajar beberapa kelas. Kamu bisa ngajarin mereka peta dunia, matematika atau topik-topik santai aja.”
Duh, aku lupa meminta tolong Sisy. “Ehm, bisa nggak cari orang lain Dok?”
Dokter Mira keliatan kecewa. “Sayang banget kalau kamu nggak bisa ikut. Padahal saya udah bilang sama mereka. Kalau ada Kakak cantik yang suaranya bagus dan pinter bercerita dongeng.”
Dokter Mira pintar sekali merayu aku buat ikut ini.
“Kira-kira berapa lama kita di sana?” tanyaku yang tegang saat membayangkan keriuhan anak-anak di sana.
“Nggak lama-lama kok. Tapi kalau kamu nggak tahan, kamu bisa pulang lebih cepet. Kamu nggak perlu maksain diri.”
Aku melihat jari-jariku. Aku tidak yakin bisa melakukan ini. “Dok, aku ini orang yang aneh ya? kenapa rasanya yang orang lain anggap biasa aja tapi bagi aku bener-bener sulit buat dilakuin.”
Dokter Mira menggenggam tanganku. Tidak ada tatapan mengadili darinya. “Kamu jangan pernah menekan diri kamu sendiri. Ingat, semua orang punya jalan yang berbeda, nggak perlu kamu berlari ketika kamu liat orang di sekitar kamu lari. Kalau kamu ngerasa jalan pelan itu yang ngebuat kamu nyaman, kamu lakuin aja. Jangan pernah kamu membandingkan dengan orang lain. Itu nggak ada efek bagus buat kamu.”
“Tapi sulit buat dilakuin Dok. Ketika semua orang suka ngebandingin di dunia ini, kita pasti kebawa arus.”
“Kamu harus tau, kamu sudah sampai kondisi sekarang ini, itu adalah usaha kamu buat jadi lebih baik. Mungkin orang lain nggak bisa ngelewatinnya kaya kamu. Kamu harus menghargai diri kamu sendiri.”
Aku harus belajar melakukannya. Berat tapi benar kata Dokter, hal terpenting di dunia ini adalah kebahagiaan diri sendiri bukan kebahagiaan orang lain.
Lalu Dokter Mira berpindah ke topik sensitif lainnya. “Ada kabar baru soal Papa kamu?”
Banyak! “Dokter mau mulai dari mana? dari Papa yang datang ke rumah sakit? kayanya Papa nggak layak buat dibahas.”
Dokter Mira pasti tidak meninggalkan topik ini. “Ada masalah lain?”
Aku menahan kepiluan yang aku rasakan. “Papa mau ambil rumah kami.”
Dokter Mira terkejut mendengar itu. Matanya terbelalak beberapa saat. “Bisa-bisanya Papa kamu ngelakuin itu. Kalian udah urus?”