Delapan belas tahun yang lalu…
Mereka benar-benar licik. Mereka sengaja menunda pertemuan dengan keluargaku sampai lebam bekas ‘kekerasan’ dari Omar sudah pudar, baru mereka mengijinkan ‘pertukaran’ itu.
Gila. Membayangkan aku ditukar dengan benda bernama ‘uang’ benar-benar penghinaan. Menyedihkan. Seperti manusia tidak ada artinya di depan merek bertiga. Mereka menganggap manusia terutama perempuan lemah sepertiku adalah bagian dari pertukaran atas tujuan mereka.
Benar-benar menyedihkan.
Setelah dibangunkan satu jam yang lalu akhirnya mereka membawa aku ke suatu tempat. Dengan mata dan mulut ditutup, serta kaki dan tangan diikat, aku dibawa dengan mobil. Mereka tidak mengatakan satu patah katapun. Sementara aku khawatir apakah ini akan semua akan berhasil. Atau aku kembali ke rumah iblis itu.
Tenggorokanku kering. Aku bahkan belum minum sama sekali. Tubuhku sudah beraroma tidak enak sama sekali. Mereka bukan hanya menyerang secara fisik tapi juga mempermainkan mentalku. Mereka ingin aku gila. Omar pasti senang jika dia bisa membuatku gila.
Mobil berhenti setelah perjalanan yang lama.
Mereka menarikku keluar.
“Itu mobil mereka,” kata Omar. Itu suara Omar.
Bunyi roda mobil yang mendekat begitu membuat aku lega. Aku bisa menghirup napas lega dan bertemu keluargaku lagi!
Sebentar lagi…aku harus bertahan.
“Lara!!!” teriakan Mama terdengar jelas dari kejauhan. Suara itu mendekat.
Aku meronta-ronta. Aku berteriak tapi tentu saja kain di mulutku menjadi pengjalang. Hanya air mata, yang sekali lagi menunjukkan emosi yang tidak bisa dikeluarkan dengan suaraku saat ini.
Pertama, mereka membuka penutup mataku.
Pada awalnya pandanganku buram. Tapi lama kelamaan aku bisa melihat dengan jelas. Mama. Mama menangis dan Papa memegangnya agar tidak mendekat ke arah kami.
Mama yang pucat dan lebih kurus dari yang aku lihat sebelumnya, menangis dan menutup mulutnya. Mama seperti tidak mengurus dirinya. Memakai pakaian seadanya. Rambutnya bahkan tidak tertata rapi.
Orangtua mana yang bisa memikirkan diri sendiri ketika melihat anaknya terluka?
Mamaku salah satu orang yang pasti menderita.
Maaf, Ma. Maaf kalau aku tidak bisa menjadi anak yang kuat dan keluar dari ini semua.
“Kalian cuman sendiri?” tanya Omar memeriksa sekitar.
Kami berada di area pertanian. Tidak ada mobil atau pemukiman yang terlihat baik secara dekat atau jauh.
Pandanganku kembali ke arah Mama yang terlihat sebentar lagi akan ambruk melihat keadaanku. Kalau Mama tau hal lain yang terjadi padaku, akan seremuk apa hati Mama?
Air mata hangat membasahi pipiku yang kering. Tapi air mataku berhenti ketika melihat Papa yang sangat kontras dengan Mama. Papa melihatku dengan tatapan yang seolah-olah dia menyesal melakukan ini.
Apa ini halusinasiku saja?
“Mana uangnya?” tanya Omar yang sudah malas berlama-lama.