Di pagi hari yang cerah kali ini, aku seharusnya menghabiskan waktu di kamarku dan membaca buku. Tapi nyatanya aku berdiri menunggu giliran untuk memperkenalkan diri bersama Djima.
Ya, Djima juga ternyata ikut ‘mengajar’ anak-anak hari ini. Entah ini kebetulan atau tidak, aku tidak bisa memprediksi. Atau jangan-jangan Dokter Mira memberitahu dia.
Kami berlima yang berdiri di depan kelas adalah pasien Dokter Mira. Dokter Mira sendiri memandang kami dari belakang ruangan. Dia terlihat sangat antusias menghabiskan waktu di sini. Hal yang sering dia lakukan di sela-sela kesibukannya di rumah sakit.
Setelah wanita paruh baya di sampingku, giliranku menyapa semua. Aku menatap semua anak-anak yang berwajah imut dan menggemaskan itu. Anak-anak yang seharusnya punya keluarga yang utuh, sayangnya hidup mereka justru kebalikannya.
“Ha…halo,” sapaku dengan melambaikan tangan. “selamat pagi semuanya, nama Kakak, Clara. Kakak bakal bantu kalian belajar santai hari ini.”
Anak paling depan dengan dua kuncir menyela. “Kakak cantik banget! di sebelah Kakak, pacar Kakak ya?”
Pacar? adik ini bilang Djima pacar aku? seluruh tubuhku merasa meremang. Membayangkan Djima menjadi temanku saja sudah tidak masuk akal.
“Bukan!” jawabku terlalu keras yang membuat semua anak tersenyum geli, tidak ketinggalan Djima yang sangat ‘terhibur’ karena reaksiku.
Djima mengambil alih perkenalan. “Nama Kakak, Djima. Ehm, salam kenal semuanya, kita bakal hepi-hepi hari ini.”
Semua anak perempuan di sana berteriak sangat kencang.
Djima benar-benar magnet buat anak-anak di sini. Dokter Mira benar-benar sengaja membawa Djima ke sini.
Kami berlima memberikan perlatan tulis untuk semua anak-anak sebelum kegiatan di mulai. Tiga dari kami membawa beberapa kelompok bermain di luar. Sementara aku memilih duduk di dalam. Bersama empat orang anak. Tiga laki-laki dan tiga perempuan. Mereka duduk di meja bundar sambil membuka peta dunia yang dibuat khusus anak-anak.
Djima berada di meja sebelah, sedang merakit bangunan dari lego. Ada berapa anak di meja itu? dua puluh anak! ada yang duduk dan berdiri.
“Kak, apa nama negara ini?” tanya anak laki-laki dengan kacamata cukup tebal.
Percakapan pertama setelah sepuluh menit aku hanya bisa memandang mereka tanpa bersuara.
Aku melihat area yang dia tunjuk. “Oh, itu Skotlandia.”
“Di sana bagus ya?”
Negara impianku. “Bagus, Skotlandia punya banyak tempat cantik.”
“Kalau aku mau ke Selandia baru!” ucap anak perempuan manis di sampingku.