Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #26

#26 - Belajar memahamimu


Langit Bogor tidak bisa diajak berpartisipasi lagi kali ini. Pak Iman yang membawa mobil ke bengkel juga belum selesai. Naik taksi bukan opsi yang baik. Aku melihat jam tangan dan sekarang sudah melewati jam satu siang. Semua orang di rumah punya kesibukan masing-masing.

Ikut aja Kak Djima balik, Kakak bisa mampir ke gym nanti. Pak Iman tinggal jemput di sana. Itu balasan chat dari Sisy yang mempercayai Djima dua ratus persen.

Djima keluar dari kelas dan mengambil tempat di sebelahku. Dia juga menatap tetesan hujan sama sepertiku. “Supir kamu belum dateng?”

Aku menggeleng. “Bisa nggak gue minta tolong, jangan panggil sebutan ‘kamu’ sama gue? Dengan amat sangat, gue minta tolong.”

Dia mengernyit. “Amat sangat?”

“Iya, amat sangat, orang-orang jadi bisa mikir aneh-aneh,” kataku entah keberapa kalinya meminta dia untuk berhenti. “lagian temen juga nggak seharusnya make kata ‘kamu’.”

“Jadi kamu udah anggep aku jadi temen kamu?” goda Djima pelan.

Ups.

Aku menarik napas dengan sabar. Mulutku salah bicara. “Gue salah ngo…ngomong.”

Djima tersenyum simpul. Bersandar dengan santai.

Pesan baru masuk. Aku mengecek dan ternyata Pak Iman bilang dia baru selesai dua jam lagi.

“Kenapa?” tanya Djima khawatir.

Sepertinya aku harus minta bantuan sama Djima kali ini.

***

 

Aku memegang safety belt dengan kencang. Membawa tubuhku mendekat ke pintu. Membuat jarak sejauh mungkin dengan tangan Djima yang ada di pedal di bagian tengah.

“Apa selimutnya oke?” tanya Djima sambil masih menatap jalanan.

Aku melirik selimut yang dia berikan. Dia selalu membantu memakaikannya. Meskipun aku menolaknya. Kenapa dia selalu punya selimut di mobil dia? dia tidur di mobil?

“Oke. Makasih,” jawabku. Setidaknya selimutnya memang berguna di udara yang tidak bersahabat.

“Clara, bentar lagi aku ada pertandingan. Kira-kira kamu bisa datang atau nggak?”

Pertandingan. “Maksud lu pertandingan boxing?”

“Iya, sekitar dua minggu lagi. Kalau kamu bisa datang, aku bisa nyiapin tempat. Arman ama Sisy juga bakal di sana.”

Badanku terasa kaku. Aku tidak bisa membayangkan menonton pertandingan penuh dengan pertarungan fisik seperti itu. Bisa-bisa memori buruk aku muncul dan aku terkena serangan panik di tengah-tengah ratusan orang. Tidak bisa. Aku tidak bisa menonton pertandingan itu.

“Ehm…kayanya gue nggak bisa,” jawabku sambil mengatur napas. “lagian lu bisa ngajak temen-temen lu yang lain kan? pasti banyak yang mau, di Bogor jarang ada pertandingan kaya gini.”

Lihat selengkapnya