Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #27

#27 - Dia tidak salah apa-apa


“Sudah aku bilang kan kalau Kakak percaya aja sama Kak Djima, dia orangnya baik kok,” Sisy berceloteh di depan semua orang di meja makan.

Semua orang memberi pandangan aneh. Tidak tau apa yang dibicarakan Sisy sama sekali. Mama datang dari dapur membawa soto yang baru saja dibuat. Mama mendengar dengan jelas suara Sisy yang bahkan mungkin orang di luar rumah bisa mendengarnya.

“Kamu ketemu Djima, Ra?” tanya Mama. Mama menuangkan soto ke mangkuk kecil untukku. Lalu Mama kembali duduk disebelah Kakek.

Aku harus mulai dari mana? “Nggak sengaja. Dia ternyata ikut acara di yayasan dari Dokter Mira. Pak Iman masih di bengkel jadi aku terpaksa ikut mobil dia, nunggu Pak Iman di tempat kerja Sisy.”

Semua mengangguk bersamaan tapi saling berbagi pandangan aneh. Kenapa mereka seperti itu?

Kakek menggeser piringnya setelah makanannya habis. Tapi Kakek tidak beranjak dari kursinya. “Djima kayanya belum banyak temen di sini, Ra. Mungkin nggak ada salahnya kadang-kadang kita ajak dia datang ke rumah. Bioskop kita minggu depan ada film baru.”

Kenapa keluargaku merasa sangat senang dekat dengan Djima? “Dia punya urusan penting. Ada pertandingan. Lagian Kek, kayanya kita harus jaga jarak. Djima sekarang Bos nya Sisy, canggung kalau kita selalu ngajak dia kemana-mana.”

Misya yang justru membalas perkataanku. “Tapi dia orangnya baik loh, dari awal pertama masalah kamu di café itu dia bener-bener ngerasa bersalah. Minta maaf sampai Kakek juga nggak tega liatnya. Terus dia keliatan tulus bantu Sisy.”

Sisy memegang tanganku dari samping. “Kak, Kak Djima itu orangnya santai aja. Nggak perduli keluarga karyawannya seperti apa, dia temenan sama siapa aja.”

Aku menggeram dalam hati karena kalah dalam ‘pertarungan’ di meja ini. “Iya deh, terserah kalian aja.”

Yang lain hanya bisa menahan tawa dan senyum mereka. Termasuk Kakek dengan suara paraunya.

Sisy menepuk meja. Matanya membesar. “Oh ya, Kakak pergi ke rumah Kak Djima kan? gimana? rumahnya gede?”

Semua orang menatapku lagi. Fakta seorang Claranisa datang ke rumah seorang laki-laki adalah berita besar. Benar, ini memang berita besar. Aku tidak pernah pergi ke rumah ‘teman’ laki-laki sejak dulu. Hingga detik ini.

Semuanya menungguku berbicara. Apa yang harus aku katakan?

Aku mengangkat tangan. “Dengerin dulu, Djima ketinggalan barang, rumah dia disekitaran daerah itu. Masa iya nyuruh dia bolak-balik.”

Semua orang mengangguk lagi. Setuju. Meskipun wajah mereka menahan reaksi yang berlebihan.

Mama tidak bicara apapun. Tapi terlihat sangat senang mendengar aku main ke rumah ‘orang lain’ untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Mama bersandar sambil meneguk teh miliknya. “Mama senang kamu bertemen dengan orang baik kaya Djima, lagian Mama ngerasa dia berbeda. Mungkin ini perasaan Mama aja, tapi selebihnya, dia sangat sopan sama orangtua. Itu poin plus banget.”

Aku menunduk, melihat makananku yang masih belum aku habiskan. Memikirkan kembali perkataan Mama. Ya, dia berbeda. Berbeda karena dia juga merasa apa yang aku rasakan. Kehilangan cinta kasih salah satu orangtuanya. Mamanya meninggalkan dia di saat dia bahkan belum mengerti dunia yang begitu kejam seperti ini.

Bagaimana dengan Papanya?

Aku tidak berani bertanya sama sekali. Kalau melihat dari foto yang hanya ada Neneknya dan dia. Jangan-jangan Papanya juga…

Lihat selengkapnya