Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #28

#28 - Bersandar padamu. . .


Delapan belas tahun yang lalu…

Air hangat membasahi tubuhku. Entah sudah berapa jam aku tidak keluar dari bathtub ini. Hanya bisa memandang air yang sudah diisi dengan wewangin oleh Mama. Meskipun belasan kali aku menggosok dan membilas tubuhku, aku masih merasa ‘kotor’ dan belum menjadi Clara lagi.

Heningnya kamar mandi ini sampai membuatku bisa mendengar suara tetesan air dari wastafel di pojok ruangan. Kulit di jariku juga sudah berkerut, menandakan sudah terlalu lama aku berendam di sini. Di kamar mandi milik Mama. Setelah sampai rumah aku tidak bisa memandang semua orang secara langsung. Aku kebingungan. Apa ini hal yang normal? benarkah yang rasakan ini normal?

Semua orang masih menungguku di luar. Mereka ingin menenangkanku. Tapi apa itu ada gunanya? tidak ada yang bisa menghilangkan bekas luka di tanganku. Tidak ada yang bisa menghapus wajah Omar di kepalaku. Dia selalu mengintai meskipun semua orang bilang mereka bertiga sudah ditangkap.

Dok…Dok…

Itu pasti Mama.

Pintu dibuka, Mama masung sambil membawa handuk bersih. Kalau aku terlihat remuk di depan orang lain, tidak ada bedanya dengan Mama. Mama juga terlihat tidak tidur, istirahat ataupun makan dengan teratur. Matanya benar-benar lelah dan perlu beristirahat. Tapi Mama tetap menemani aku sejak tadi.

“Lara,” panggil Mama sambil berjongkok. Mengelus rambutku yang basah. “Ayo kita keringin badan kamu. Nanti kamu sakit, sayang.”

Aku menangis lagi. Air mataku bercampur dengan air mandi di sekelilingku. “Aku nggak mau ketemu mereka, Ma. Tolong, jangan biarin aku ketemu mereka.”

“Tapi mereka semua sayang sama kamu.”

Oma dan Papa tidak sama sekali.

“Biarin aku masuk ke kamar langsung. Aku nggak mau cerita apa-apa.”

Mama ingin mengatakan sesuatu tapi menahannya. Sorot matanya yang lembut hanya bisa memberikan pengertian yang luar biasa. “Oke kalau gitu, kamu langsung masuk kamar aja.”

Setelah mengganti pakaian dengan sangat pelan karena semua badanku terasa sakit, kami keluar.

Untungnya semuanya ada di lantai satu, jadi aku tidak perlu bertemu mereka sama sekali. Aku masuk ke kamarku, kamar yang membuatku merasa paling aman. Udara sejuk dari jendela membuat semuanya jauh lebih baik.

Mama membantuku berbaring. Aku menarik selimut dan berusaha menutup mataku. Aku tau ini sia-sia. Aku tidak mungkin bisa tidur.

“Kamu mau makan apa, sayang? Mama ada buat sup jagung kesukaan kamu.”

“Aku nggak mau makan, Ma. Aku mau tidur aja.”

Mama mengelus lenganku. Aku bisa mendengar rintihan tangis dari Mama yang tertahan. Tapi Mama berusaha menahannya dan aku berusaha tidak membuka mata agar tidak kembali emosional karena melihat itu.

Mama menghela napas berat. “Oke, sayang. Nggak apa-apa. Mama ke bawah dulu ya, Mama tinggal bentar ya, nanti Mama balik lagi.”

Aku mengangguk pelan. “Ma, tolong tutup jendelanya ya.”

“Kenapa sayang?”

Sambil mengusap air mata yang kembali turun dan membasahi pipi, aku menjawab. “Aku takut, Ma. Gi…gi…mana kalau mereka masuk dari situ?”

Tangisku pecah lagi. Mama hanya bisa memelukku dan ikut menangis bersamaku. Bukan hanya aku yang tidak kuat tapi Mamaku yang sangat tegar juga punya hal yang membuatnya hancur.

Lihat selengkapnya