Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #29

#29 - Laki-laki yang penuh luka


Sinar matahari berhasil membuat aku terbangun sukses tanpa terbangun karena alarm ataupun jam weker. Meskipun tirai sudah tertutup rapat, sang dewa matahari masih bisa menyapa dari sela-sela yang terbuka. Awalnya mataku masih mencoba menutup lagi tapi ketika aku melirik jam di meja yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi dan teringat dengan Raka. Aku tersentak. Tapi saat aku menggerakkan tangan, bahuku terasa sakit. Sakit luar biasa. Masalah semalam membuatku menjadi tegang dan efeknya syarafku benar-benar merasakannya. Tapi aku mencoba mengabaikannya.

Aku mengambil handphoneku dan turun ke bawah dengan kecepatan luar biasa. Di meja makan ada Kakek, Sisy dan Djima.

Djima masih di sini?

“Kak, Kakak udah bangun, loh Kakak belum ganti baju ya?” tanya Sisy sambil mengunyah roti di tangannya.

Aku melihat baju yang aku pakai. Aku masih pakai baju yang sama? bukan piyama?

Sisy menepuk dahinya. “Oh, iya kemarin Kak Djima yang gendong Kakak ke atas, nggak mungkin juga bisa ganti baju kalau Kakak ketiduran kaya gitu.”

Ketiduran?

Digendong???!

Pandanganku bergeser ke arah laki-laki yang seperti baru saja mandi dengan tampilan sangat segar. Dia menyapaku dengan senyuman lima ratus megawatts miliknya.

Rasa malu luar biasa pasti terpancar dari wajahku. Aku langsung bergegas ke kamar Raka untuk menghindari percakapan itu lagi. Aku lebih baik mengecek hal yang lebih penting.

Di dalam kamar, Paman dan Mama sedang berbicara serius di dekat jendela. Mama melihat ke langit-langit seolah-olah mencari jawaban dan solusi. Ini memang masalah besar. Apa yang sebenarnya terjadi?

Raka sudah lebih baik. Tapi dia belum membuka matanya. Selimut tebal menutupi dia dari kedinginan. Pipinya sedikit lebih berwarna dari kemarin. Kotak sampah di sampingnya yang dipenuhi dengan kain dan kapas penuh darah masih belum dibuang sama sekali.

Aku ingin menyentuhnya. Tapi lebih baik tidak aku lakukan.

Paman lalu keluar kamar untuk sarapan. Mama masih di tempat yang sama.

“Ma, kayanya Raka udah mendingan. Apa perlu kita telpon mereka?” tanyaku ragu.

“Maksud kamu Papa kamu?” tanya Mama yang menarikku duduk.

“Mereka pasti cemas, jangan-jangan polisi udah cari ke mana-mana.” Itu pasti akan dilakukan Papa, Mamanya dan Oma. Raka adalah salah satu anak dan cucu kesayangan mereka.

“Papa kamu pasti nyalahin kita. Sampai Raka belum sadar, orang pasti nyalahin kita. Seenggaknya kalau Raka sadar, dia bisa cerita.”

“Jadi Mama biarin Raka di sini?” tanyaku gelisah.

Mama memijat pelipisnya. Seperti ada ratusan masalah di benaknya. “Mama nggak tau, Ra. Mendingan kita pastiin Raka sadar aja dulu. Itu aja dulu. Selain itu nanti aja kita pikirin. Karena kalo sekarang kita kasih tau Papa kamu, Mama bisa bayangin satu keluarga besar Papa kamu bakal datang ke sini. Inget, kalau Kakek bisa stress juga liat kita berantem lagi sama Papa kamu.”

Iya, benar. Kakek juga harus jaga kesehatan.

“Mama mau kerja, nanti Paman bakal jaga Raka, kamu sama Sisy pergi ke beli belanjaan ya, oh iya, Pak Iman sakit. Kalian pergi pake taksi aja. Sekalian beli obat buat Raka juga. Nanti Mama kasih resepnya.”

“Ma, aku kemarin ketiduran ya? Sisy bilang Djima yang bawa aku ke atas? apa iya? kok kalian biarin dia bawa aku ke atas?”

Lihat selengkapnya