Semua orang sedang sibuk masing-masing. Di sore hari setelah Dokter berkunjung untuk kedua kalinya, aku mengambil buku dan duduk di sebelah Raka. Dia jauh lebih baik dengan wajah lebih cerah. Karena Mama takut Raka bangun dan punya pikiran tidak stabil, Mama memintaku untuk menjaga sementara Paman kembali ke bioskop.
Sejujurnya aku orang salah untuk duduk di sini. Sejak kapan aku bisa menenangkan orang lain? menenangkan diri sendiri saja aku kewalahan. Tapi aku mencoba membantu sebisaku saja.
Sambil membaca buku, mataku sesekali melihat pergelangan tangan Raka yang dibalut rapi oleh Dokter. Kain kasa putih yang untungnya sekarang tidak ada darah yang menembusnya. Tempat di mana Raka ‘terluka’ sama persis dengan tempat di mana Djima punya bekas luka.
Pikiranku bercabang ke mana-mana. Apa mereka melakukan sesuatu pada diri mereka sendiri?....
Raka bergerak. Suaranya parau berat. Jelas-jelas kekurangan cairan di tenggorokannya. Matanya terbuka perlahan. Menatap langit-langit dengan bingung dan tatapannya mendarat terakhir padaku. Terkejut melihatku sekaligus terlihat emosional.
“Ka..Kak Lara,” panggil Raka dengan lega sekaligus tidak percaya.
Aku membantu dia untuk duduk dengan menaruh bantal di belakangnya. Lalu menuangkan air putih buatnya. Jujur saja, ini adalah momen paling dekat dengan Raka. Aku tidak pernah berbagi momen kekeluargaan satukalipun dengan adik tiriku ini.
Bisa-bisanya kami ada di kondisi seperti ini karena sebuah kejadian tidak mengenakan.
Meskipun aku benci mendekatkan diri dengan Raka, setidaknya aku bersyukur dia bisa ‘selamat’. “Gimana kepala kamu? kamu ngerasa pusing? Dokter bilang harus tanya kondisi kamu pas kamu udah bangun.”
Raka menunduk. Dia pelan-pelan ingat apa yang terjadi ketika matanya melihat balutan tebal di tangannya sendiri. Namun dia tidak terlihat ketakutan sama sekali. Meskipun dia terlihat merasa bersalah.
“Maaf, Kak. Aku nggak bermaksud bikin onar.”
Kalau prediksi aku benar, Raka melakukan ‘itu’ pada dirinya sendiri. Maka ini bukan tidak sengaja tapi dia jelas-jelas tau konsekuensinya.Tanganku mengepal. “Kamu mau cerita apa yang sebenernya terjadi?”
“Aku pergi dari rumah.”
Jelas. Semua orang di rumah dia pasti sedang kelabakan. “Kamu berantem?”
Raka meneguk air sebelum menjawab. “Ya, sama semuanya.”
“Termasuk Oma?” tanyaku.
“Apalagi Oma. Orang paling keras kepala.”
“Harusnya kamu seneng, kamu kesayangan Oma, kan?”
“Aku bukan ranking satu, rangking satu di keluarga tetep Kak Bagas,” jawab Raka jujur.
Lagi-lagi, Bagas.
“Aku cuman bilang sama Oma kalau aku undang Kakak semuanya ke ulang tahun Oma. Tapi ternyata Oma nolak.”
Aku bingung. “Bukannya aku udah bilang kalau kita nggak mungkin ke sana, Raka.”
Raka tersenyum lemah mendengarku. Dia meletakkan cangkir dengan tangan bergetar. Aku harus membantu dia supaya cangkir tidak jatuh. “Akhirnya Kakak manggil nama aku juga.”