Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #31

#31 - Tamasya Keluarga Bahagia


Aku melihat surat pembatalan kuliah strata dua di tanganku. Aku memutuskan untuk membatalkan perkuliahan. Aku meminta ijin beberapa minggu awal karena masalah waktu terapi yang menyita waktu. Tapi tadi malam, aku memutuskan untuk membatalkan perkuliahan ini.

Salah satunya karena menurut aku biaya kuliah ini bisa aku pakai untuk yang lain. Atau aku bisa memberikan kembali pada Mama. Aku akan memberitahu Mama nanti malam.

“Kak,” Misya memanggil dari pintu yang sudah terbuka.

Kami bertiga sepakat pergi dengan Raka. Meskipun kami tidak punya hubungan yang baik dengannya, tapi kalau kami tidak melakukan ini, bisa saja terjadi sesuatu lagi yang tidak kami inginkan.

Melihat sikap Raka, kami merasa dia bisa berubah kapan saja.

Aku menaruh surat di meja, mengambil tas dan menutup pintu dengan cepat. Hari minggu ini semuanya sedang tidak bekerja jadi kami bisa lebih leluasa. Ketika aku sampai di meja makan, semua orang hampir selesai sarapan. Termasuk Raka yang duduk dengan ‘manis’ di sebelah Sisy.

“Kak, kita udah harus jalan, Kak Arman nanti bakal ada pelanggan lain,” keluh Sisy.

“Arman? Arman yang mana?”

“Ya Kak Arman, siapa lagi, Kak Arman bikin tempat fotografi di belakang Gym Kak Djima, belum dibuka buat umum tapi demi kita, Kak Arman mau bantu. Kalau tempat lain aku nggak nemu tempat yang bisa diajak kerjasama. Gimana kalau mereka tau muka Raka, bisa runyam.”

Benar. Wajah Raka sudah masuk ke semua media sosial. Sebagai anak yang paling dicari di Bogor. Dia jadi terkenal dalam hanya dua puluh empat jam.

Sementara Raka santai-santai saja meskipun semua orang di rumahnya mencarinya.

Aku tidak sarapan sama sekali karena taksi sudah menjemput kami di luar. Kami meminta Raka memakai masker dan duduk di belakang supaya supir taksi tidak mengenalinya. Kenapa kita jadi repot seperti ini?

Ini semua karena anak remaja bernama Raka Setyamaka.

Perjalanan menuju tempat Arman benar-benar canggung. Kami tidak bicara sama sekali satu sama lain. Mama tidak keberatan kami melakukan ini, karena menurutnya Raka tidak bersalah. Meskipun kami tidak menerima kehadiran dia selama ini, Mama mengatakan, fakta bahwa dia adik kami tidak bisa dipungkiri. Dia tetap adik kami, suka atau tidak suka.

Mama begitu berlapang dada.

Mungkin salah satunya ketakutan kami dengan ‘mental’ Raka yang tidak stabil. Menyenangkan hati dia salah satu solusinya.

Arman sudah ada di tempat itu saat kami sampai. Bangunan rumah kecil yang berada tepat di belakang gym. Kami melewati jalan kecil untuk sampai ke tempat ini. Parkiran penuh di tempat gym. Sepertinya bisnis Djima benar-benar lancar.

Saat Misya, Sisy dan Raka sedang memilihkan jas untuk Raka di ruang pakaian, aku menghampiri Arman. Dia sibuk menata cahaya dan kamera. “Lu dulu suka fotografi, ternyata lu mau jadiin bisnis juga ya? gue pikir lu cuman hobi aja.”

“Gue memang pingin banget punya tempat ini, kecil-kecilan. Bokap gak setuju sama sekali soal yang satu ini. Masih pingin gue nerusin bisnis. Jangan bilang ke mereka ya.”

Lihat selengkapnya