Delapan belas tahun yang lalu…
Mama membantu semuanya. Mengeringkan rambutku ketika aku terlalu mengabaikannya, melipat pakaian ketika aku tidak ingin melakukannya, bahkan menemaniku tidur selama satu minggu setelah aku kembali ke rumah.
Aku melihat punggung Mama yang membelakangiku. Aku memeluk Mama hingga membuatnya kaget. Mama melihat aku yang terbangun di jam lima pagi.
“Kenapa, Ra? kamu mimpi buruk?”
Mimpi buruk untuk kesekian kalinya. Terjadi setiap kali aku menutup mata. Aku tidak pernah setakut ini untuk menutup mata.
Mama menepuk tanganku dengan lembut. Mama yang lelah tetap berada di sampingku meskipun aku tidak memintanya. “Nanti siang, kamu sudah siap ketemu sama polisi? buat bikin laporan. Kalau kamu belum sanggup, nggak apa-apa sayang, sampai kamu siap, kita nggak bakal maksa kamu.”
Ditunda tidak ada artinya. “Nggak apa-apa, Ma. Aku mau ini selesai.”
Kami berbaring dalam diam selama lebih dari satu jam. Seperti hari-hari sebelumnya, aku mandi, makan, dan membaca buku di kamar. Tidak berani bertemu dengan Misya dan yang lainnya.
Mereka cukup paham dan memberikan aku ruang untuk bernapas.
Siang harinya dengan ditemani Kakek dan Mama, aku pergi ke kantor kepolisian. Kakek menggenggam tanganku saat kami sampai.
“Kek, jangan tinggalin aku ya.”
Kakek memelukku dengan menahan tangisannya. “Nggak mungkin Kakek ninggalin kamu, sayang. Kamu tenang aja, kamu bakal jadi orang yang sangat kuat setelah ini. Kakek bakal ada buat kamu.”
Kakek tetap memegang tanganku di ruangan kantor berukuran kecil itu. Selama aku membicarakan semuanya dari awal sampai akhir, semuanya tidak pernah menekan aku untuk berbicara ketika aku mulai menangis dan susah bernapas. Mereka akan memberikan aku waktu istirahat dan baru mulai lagi ketika aku sudah lebih tenang.
Selama itu juga Kakek dan Mama ikut hancur mendengarnya. Mereka berusaha tegar tapi pada akhirnya aku melihat mereka menangis di kursi mereka, menyeka wajah mereka yang memucat itu dan hanya bisa memberikan kata-kata semangat untukku.
Bisakah aku menjadi utuh lagi?
Aku hanya manusia biasa yang rapuh dan bisa sulit bangkit. Aku hanya anak dua belas tahun yang bahkan tidak tau apakah menjadi dewasa itu menyenangkan atau tidak.
Aku hanya bisa berjanji pada diriku sendiri, jika aku akan mencoba melangkah satu demi satu….
***
Masa Kini
Mama pulang lebih awal karena kantor Mama sedang renovasi. Saat aku masuk ke kamar Mama, dia sedang bekerja di mejanya. Dengan kacamatanya yang berwarna emas itu, Mama sangat fokus hingga tidak tau aku masuk sama sekali.
“Ma,”
Mama mendongak. Melepaskan kacamata dan menghela napas pelan. “Oh, Lara. Kalian udah pulang? Raka gimana?”
“Dia udah pulang sendiri.”
Mama lega. Mama menangkup tangannya di meja. “Semoga anak itu nggak apa-apa.”