Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #33

#33 - Kekasih idola?


Tengah malam aku terbangun. Penuh keringat di dahi dan leher. Aku terpaksa membasuh wajah lagi. Sambil menatap wajahku sendiri di cermin, aku sadar belum melepaskan cincin pemberian Djima. Aku melepaskan cincin itu dan menatap liontin berbentuk ‘setengah bulan’ itu. Apa ini benar-benar bisa membuat ‘serangan panik’ berkurang?

Saat kembali ke tempat tidur, notifikasi muncul dan reflek aku membacanya. Nomor tidak dikenal.

Clara, kamu udah tidur?

Siapa yang chat jam dua belas malam?

Ini Djima.

Oh. Kenapa dia bisa tau nomor baru aku?

Kamu nggak bisa tidur?

Tiba-tiba dia menelepon.

Dokter Mira memintaku bersikap baik dengan dia. Selain itu Djima juga Bos dari Sisy. Semua keluarga aku juga suka sama laki-laki satu ini. Jika diibaratkan dengan pertandingan boxing, mereka ada di sudut yang sama.

Seorang Djima Aldiraja sudah ‘membius’ semua orang.

Setelah menekan tombol terima, aku menunggu dia bicara. Pada awalnya tidak ada suara sama sekali. Apa dia juga sedang mencoba tidur?

“Clara.”

Suaranya lebih parau dari biasanya. Sedikit serak seperti baru terbangun dari tidurnya yang tidak nyenyak sama sekali.

“Lu nggak tau kalo ini udah malem banget? lu tau dari mana nomor gue? ada masalah penting apa lu nelpon malem-malem?”

Suara tawanya yang renyah ternyata menyentuh hatiku yang sebenarnya siap untuk ketus lagi padanya. Tapi kesabarannya dan reaksinya yang santai justru membuat aku bingung harus berbuat apa.

Aku tidak punya pengalaman sama sekali berhadapan dengan laki-laki. Ditambah lagi laki-laki satu ini begitu mengganggu pikiranku.

“Pertanyaan kamu banyak banget. Maaf ya kalau aku ganggu kamu. Aku cuman iseng aja buat nanya kabar kamu. Siapa tau kamu nggak bisa tidur kaya aku. Ternyata tebakan aku bener.”

Bisa-bisanya kita punya kesulitan yang sama.

“Ehm, lu nggak punya temen lain buat ditelpon?”

Terdengar suara piano pelan dari balik telpon. “Ngapain nelpon Arman?”

“Djima, mana ada orang yang saling telpon malem-malem gini, cowok sama cewek.”

“Besok kamu mau terapi kan? aku mau temenin kamu . Boleh kan?” tanya beralih ke topik lain.

Lihat selengkapnya