Djima memastikan pintu di rumahnya terbuka meskipun aku tidak mengatakan apapun. Dia masih mengingat hal-hal detail yang tidak nyaman untukku. Aku menghirup aroma di ruang tamu. Semuanya wangi semerbak dan membuat aku yang gelisah, sedikit terobati.
“Aku denger katanya kamu mau kuliah,” kata Djima dari dapur.
Aku duduk di meja makan yang penuh dengan makanan ringan. Kue strawberi salah satunya. Apa dia sengaja menyiapkan ini?
“Pasti lu denger dari Sisy ya?” tanyaku sudah bosan dengan bagaimana adikku sendiri tidak bisa menjaga mulutnya. “gue nggak jadi kuliah S2.”
Djima berbalik sambil memegang sendok besar. Cukup aneh melihat laki-laki bertubuh besar seperti dia menghabiskan waktu untuk memasak. Meskipun dia terlihat sangat lucu.
“Kenapa?”
Aku mengendikkan bahu. “Aku mau kerja aja.”
Djima kembali mengaduk isi pancinya. “Yang penting kamu bahagia, itu yang paling penting. Udah tau mau kerja di mana?”
“Belum. Pelan-pelan gue bakal cari.” Aku melihat kue strawberi di depanku dan jujur aku tidak bisa tahan untuk tidak mencicipinya.
Djima datang membawa bubur yang sangat harum. Dia menangkap aku yang terpaku dengan kue. “Makan aja, Clara. Ini memang buat kamu.”
“Lu belum sarapan?”
“Iya, kamu juga nggak makan banyak kan? kata Pak Iman kamu buru-buru ke rumah sakit.”
Pak Iman dan Sisy punya kepribadian yang sama.
“Di mana cincin kemarin?”
Aku melihat tanganku yang polos tanpa memakai apapun. Ups, cincin itu tertinggal di rumah. “Ehm, di rumah. Cincin itu nggak perlu sering dipake kan?”
Djima menunjukkan cincinnya. “Aku selalu pake, aku mau tes, apa iya bisa ngurangin anxiety.”
“Mungkin cuman sugesti aja kali.”
Djima menggigit bibirnya. Ragu. “Bisa jadi, tapi harusnya kamu tetep pake. Itu hadiah dari aku buat kamu.”
Aku meletakkan piringku yang kosong. Berhenti untuk mengambil kue yang sudah dipotong Djima. “Djim, itu cuman cincin. Kenapa harus dibesar-besarin?”