Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #35

#35 - Matahariku


Aku menutup mataku setiap kali Djima melemparkan pukulan pada teman sparringnya. Ini pengalaman pertama aku menonton orang berlatih untuk pertandingan yang sangat ‘mengerikan’ menurutku. Aku tidak tau bagaimana bisa Sisy melihat Djima berlatih selama bekerja di sini.

Sejujurnya aku ingin menolak ajakan Djima tapi aku tau ini sangat penting untuknya. Menjelang pertandingan akbar yang akan berlangsung dua hari lagi, Djima perlu dukungan penuh dari segala arah. Ya, termasuk aku yang ‘penakut’ ini.

Hubunganku dengan Djima baru dimulai. Menakutkan? iya. Karena aku tidak tau harus bersikap seperti apa pada mahluk bernama laki-laki. Aku terbiasa menjadi perempuan yang introvert dan hanya melakukan semuanya secara mandiri dan hanya meminta bantuan keluarga saja.

Tapi Djima orang yang spesial.

Dia berhasil membuatku nyaman dengan perilakunya. Apa semua orang merasakan seperti yang aku rasakan pertam kalinya? apa ini hanya permulaan saja?

Pikiranku yang bercabang terhenti ketika Djima turun dari octagon dan berjalan ke arahku. Dengan badan bagian atasnya tanpa sehelai benangpun, keringat mengucur di dadanya dan perutnya yang sangat atletis.

“Clara,” panggil dia dengan nada yang jauh lebih lembut semenjak kami sepakat untuk memulai hubungan ini. Senyumnya merekah tanpa henti hingga detik ini. “Mata aku di atas sini,” katanya menunjuk kedua matanya.

Wajahku pasti merah padam. Harusnya aku menghindar untuk menatap dada dan perutnya itu.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya dia duduk di sampingku sambil mengalungkan handuk di lehernya.

Aku menyodorkan air minum untuknya. Dia mengambilnya dan mulai meneguk beberapa kali untuk menghilangkan letihnya.

“A..aku,” ucapku terbata sedikit. Belum terbiasa memanggilnya dengan panggilan sedekat itu. “aku belum pernah nonton orang saling mukul.”

Boxing, kita nggak saling mukul kok. Ini olahraga,” koreksi Djima.

“Iya, iya, Boxing.”

Djima duduk lebih dekat. Dengan tangannya yang sudah dia keringkan, dia membelai rambutku. Pelan dan sangat lembut. Aku menunggu kepanikan itu muncul, tapi itu tidak muncul. Ini kemajuan yang sangat luar biasa. Aku sama sekali tidak merasa takut dengan Djima.

Djima menatap dengan perhatian penuh. “Kamu bilang aja kalau kamu nggak nyaman. Aku ngerti kok kalau kamu nggak kuat. Termasuk kalau kamu nggak nyaman aku nyentuh rambut kamu sekarang.”

Tangannya belum pergi dari rambutku. Masih membelainya seakan ‘benda’ paling berharga untuk dia. Aku menggeleng. “Aku nggak apa-apa. Kalau masalah Boxing, a…aku nggak tau kapan bisa nonton sambil buka mata.”

Djima terkekeh kecil. Matanya masih menatap tanpa memperhatikan sekeliling kecuali mataku. “Pelan-pelan kamu pasti bisa. Contohnya kamu udah mulai coba manggil aku pake sapaan lain kan?”

Aku mengigit bibirku dengan grogi. “Ini nggak mudah, Djima. Tapi lama-lama pasti orang jadi sadar kalau…”

“Kalau apa?” tanya Djima cepat.

Aku melihat ke sekeliling. Arman sibuk berbicara dengan pelatih Djima dan Sisy belum terlihat. “Kalau kita…”

“Pacaran,” Djima melengkapi pernyataan itu.

Lihat selengkapnya