Tujuh belas tahun yang lalu…
Hari ini ulang tahun Oma.
Kami tiga bersaudara memakai warna pakaian senada. Warna kuning terang. Mama menggenggam tanganku di belakang. Sementara Papa, Misya dan Sisy berjalan di depan. Kami berjalan beriringan masuk ke restoran itu.
Di sana sudah penuh dengan tamu. Orang-orang kaya yang parfum mereka yang lebih wangi dari melati di taman rumahku serta orang-orang dengan pakaian mewah seperti selebriti, semuanya sedang sibuk bersenda gurau. Sibuk bersenda gurau satu sama lain sambil minum anggur merah di tangan mereka.
Tentu saja kami anak-anak ini tidak dibolehkan menyentuh itu. Kami hanya duduk berdampingan di meja panjang dan minum air jeruk kami seperti biasa. Misya duduk dengan tertib sementara Sisy yang ceria selalu memainkan salad buah di depannya.
Acarapun di mulai. Oma memberi kata sambutan sebagai pemilik acara dan orang yang berulang tahun setelah masuk ke ruangan. Kami bahkan tidak sempat memberi ucapan selamat karena Oma sibuk bicara dengan orang lain sambil membawa Bagas ke mana-mana.
Cucu kesayangannya.
Setelah pembukaan selesai semua orang bernyanyi selamat ulang tahun. Suara menggema di ruangan. Semua orang menunggu Oma yang sedang memotong kue besar berlapis tiga di sebelah panggung.
Mama selalu menanyakan keadaanku setiap lima menit. Takut jika aku mendadak ‘panik’ dan bisa tidak terkendali. Tapi aku meyakinkannya dengan selalu tersenyum. Meskipun aku jelas-jelas tidak suka datang ke acara ini tapi demi Mama, demi nama Mama, aku mencoba menahan kemarahan itu.
Setidaknya tidak ada yang tau aku korban penculikan. Aku tidak akan menerima pandangan kasihan atau pandangan tajam yang bisa saja semua orang lemparkan padaku.
“Perhatian semuanya,” ucap Oma. Oma memanggil Bagas yang memakai tuxedo mahal. Wajahnya yang bersinar jelas terlihat. “Hari ini saya juga mau kasih tau cucu saya, cucu kesayangan saya, Bagas, akan sekolah di Amerika bulan depan.”
Semua orang berdecak kagum.
Tahun 2009 seperti ini, bersekolah di Amerika adalah impian semua orang bukan?
Semua orang kagum sekaligus iri. Termasuk aku. Itu wajar bukan? sekolah di luar negeri juga impianku.
Tapi sayangnya aku tidak mampu untuk melakukan itu.
Aku bukan Bagas yang akan didukung oleh Oma.
Papaku sama sekali tidak peduli dengan anak-anaknya.
Oma lalu memberikan Bagas hadiah sebuah emas yang berada di dalam satu kotak. Hanya Bagas yang menerimanya.
Oma tidak mengucapkan nama cucu-cucunya yang lain. Lebih parah dari itu, Oma bahkan tidak datang ke meja kami. Menyapa sekalipun tidak.
Menyedihkan bukan?
Aku meminta izin pada Mama untuk menemaniku ke kamar kecil. Sesampainya kami di sana, aku masuk ke bilik, dan menangis tanpa bersuara. Merintih sakit dari dadaku tanpa mengeluarkan jeritan.
Jangan sampai Mama tau.
Mulai detik ini aku berjanji. Aku hanya akan menghargai dan mencintai orang yang memberikan cinta tanpa batas padaku.