Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #37

#37 - Perisai hati

     

Lagi-lagi pagi ini hujan. Sebentar lagi Djima akan datang. Menjemputku untuk berbelanja dan makan di rumahnya.

Hal sederhana tapi ini sangat luar biasa bagiku.

Air membasahi jendela hingga aku tidak bisa melihat dengan jelas taman di luar sana.

Ketukan pelan muncul.

Aku berdiri dan membukanya.

Di sana Djima dengan wajah yang bersinar seperti ‘matahari’ berdiri dengan aura yang terlalu sempunra.

Mungkin opiniku dipengaruhi kurangnya tidur. Djima tidak boleh sampai tau kalau dia sudah membiusku.

“Apa aku boleh masuk?”

Aku tersenyum. Sikap yang aku hargai. “Masuk, kamu cowok keempat yang masuk ke gua Claranisa Setyamaka.”

Dahinya berkerut. “Keempat? sayang sekali aku jadi orang keempat. Kenapa kamu manggil kamar kamu gua? Kamar secantik ini?”

Jemarinya yang panjang menyentuh lemari kayuku. Dengan hati-hati tidak menyentuh buku-buku kesayanganku.

Aku percaya padanya. “Kamu bisa pinjam satu kalau mau. Itu kalau kamu suka baca.”

Djima menahan tawanya. “Kamu nyindir ya?”

Aku mengambil tas. “Petinju suka baca bisa jadi tapi aku belum pernah ketemu. Jadi…”

“Aku mau pinjam satu. Tapi lain kali.”

Aku menahan tawaku kali ini. Sambil mengikuti Djima keluar, aku melihat notifikasi.

Raka mengirim chat.

Oma nggak sengaja ngomong ke media masalah keluarga.

Aku denger mereka bicara soal itu. Kakak jangan khawatir, aku coba minta mereka beresin masalah ini.

Selain itu, maaf ya Kak, maaf Kakak dulu ngalamin itu.

Maafin Raka karena nggak bisa bahagiain Kakak.

Raka, remaja yang berusaha membereskan masalah orang dewasa.

Aku tidak membalasnya.

“Ada apa?”

“Nggak ada apa-apa. Aku kayanya perlu topi. Tapi kita nggak akan lama di sana kan?”

“Di supermarket? nggak lama, Clara. Tenang aja, tempat itu paling sepi. Kamu udah cukup ada di rumah. Hirup udara di luar juga bagus. Apalagi lagi hujan. Kesukaan kamu kan?”

Hujan itu menenangkan.

Setelah siap dan memakai topi Djima, kami pergi dengan mobilnya.

“Mama kamu kenapa ada di rumah?” tanya Djima.

“Mama boleh ambil cuti beberapa hari. Atasannya kasih Mama istirahat. Besok udah mulai kerja lagi.”

“Apa mungkin karena…”

“Ya, karena aku sekarang terkenal, Djima. Nggak ada yang nggak kenal aku.”

Djima memegang tanganku. Tangannya hangat, kontras dengan betapa dinginnya tanganku. “Kamu tenang aja, kalau ada yang berani membahas itu di depan kamu, kita bisa lapor. Mereka nggak boleh ngelewatin batas.”

“Sekarang mana ada yang ngerti batasan.”

“Kita nggak bakal lama. Kalau kamu memang nggak nyaman, aku aja yang turun.”

Lihat selengkapnya