Aku membantunya mencuci piring meskipun dia menentangnya. Begitulah Djima, kesehatanku nomor satu.
Dia lalu mengangkat telepon di luar. Suaranya cukup besar. Sepertinya dia ada masalah.
Dia sengaja supaya aku tidak mendengar masalahnya.
Aku mengatur piring sambil menunggunya.
Pintu belakang dibuka olehnya. Dia masuk lagi. Wajahnya frustrasi.
“Ada apa?” tanyaku yang ikut cemas.
Djima tersenyum lemah. “Masalah kecil. Adik tiriku datang ke Gym. Dia buat masalah lagi.”
Aku ingat pernah membaca beritanya. “Berarti kita harus pergi ke sana sekarang.”
Djima membantu mengeringkan tanganku. Jelas-jelas dia kesal dengan apa yang sedang terjadi dari raut wajahnya. “Kamu pulang aja. Nggak ada salahnya tidur siang. Istirahat. Itu yang paling penting. Ingat, jangan baca sosmed. Biarin aja mereka mau ngomong apa.”
“Aku mau ke sana, Djim. Gimana kalau dia bikin ulah lagi?”
“Justru itu, kamu nggak boleh ada di sana. Aku nggak bakal bisa fokus. Emosi aku bakal tiga kali lipat kalau kamu cedera lagi karena dia,” ucap Djima menyentuh pipiku. “aku bakal antar kamu.”
Tidak ada gunanya bertengkar. Lagipula Djima benar. Ini akan semakin kacau kalau kami bertiga berada di satu ruangan yang sama.
Setelah semuanya beres kami pergi. Sepanjang perjalanan Djima mendapat telepon dari Arman hampir empat kali.
“Kamu nggak mau angkat?”
Djima menggeleng. Wajahnya sangat serius. Seperti menahan semua pikiran buruk yang bisa saja terjadi.
“Djima,” panggilku. Tanganku yang kecil menyentuh lengannya yang besar. “kalau kamu butuh bantuan, apapun itu, kamu telpon aku. Jam berapapun aku bakal angkat.”
Djima melembut sedikit. Otot di wajahnya bergerak lebih rileks. Matanya menoleh sebentar. “Makasih, cantik. Maaf banget kamu jadi balik duluan.”
Panggilan yang terlalu manis.
Tapi aku tidak akan menolaknya.
“Nggak apa-apa. Tenang aja. Bisa lain kali. Tapi jangan pizza lagi.”
Djima tergelak. “Kenapa nggak enak ya?”
“Tomatnya kebanyakan.”
“Oke lain kali kita kurangin jadi satu kilo aja.”
Kami berdua tertawa. Tertawa karena topik yang aneh.
***
Djima membantu aku sampai ke pintu. Di tangannya payung besar dan suara hujan membuat suara kami tenggelam.
Wajahnya sedikit terkena hujan. “Clara, aku mau minta satu hal. Apapun yang terjadi, jangan percaya omongan orang lain, kamu bisa tanya aku langsung.”
Sesuatu yang besar akan terjadi.
Tapi aku tidak ingin melewati batas.
Belum.
Aku mengangguk. “Kamu bisa janji sesuatu, nggak?”
“Apa?”
“Aku minta kamu menghindari konflik sama adik kamu. Secara fisik, lebih tepatnya. Aku nggak mau datang ke rumah sakit lagi untuk masalah lain. Aku pingin kamu baik-baik aja.”
Djima lega mendengar itu. “Makasih karena kamu sudah khawatir sama aku. Padahal orang lain ngerasa petinju itu punya ilmu kebal.”
Aku menepuk dadanya karena candaannya.