Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #40

#40 - Atap runtuh


Tiga belas tahun yang lalu

 

Hari ini hari ulang tahunku.

Papa dan Oma berjanji akan mengajakku makan malam. Hari ini ulangtahun ketujuh belasku. Mama yang sudah bercerai dengan Papa tentu saja tidak akan ikut.

Hanya ada kami bertiga. Misya dan Sisy yang tidak tahan dengan Papa, tetap ikut demi aku.

Kami sedang duduk di restoran jepang mahal. Kami ada di bilik VIP yang dipesan Papa.

“Kak, pasti Papa bawa dia,” tuduh Misya.

Aku melihat Sisy yang duduk dengan tenang. Aku tidak ingin Sisy merasa sedih. Aku menunduk dan berbisik pada Misya. “Kalau dia datang biarin aja. Kita lebih baik diem aja.”

“Kita nggak salah apa-apa, Kak,” bela Misya.

“Kakak tau, tapi Mama pasti sedih kalau Oma datang ke rumah marah-marah lagi.”

Misya menghembuskan napas kesal.

Kami menunggu setengah jam. Setelah itu muncul empat orang. Oma membawa Bagas, dan Papa bersama Raka.

Adik tiri kami.

Aku harus menahan diri sebaik mungkin.

Aku masih berharap bisa memiliki hubungan baik dengan keduanya.

Oma duduk dan melihat kami bertiga. “Kalian bolos sekolah hari ini?”

Pertanyaan macam apa itu?

Misya yang bicara pertama. “Kami nggak bolos, Oma. Hari ini libur.”

Oma tersenyum kecil. “Oh, Oma terlalu sibuk sampai lupa kalau hari ini hari libur. Bagas hari ini ikut kompetisi matematika. Jadi Oma sibuk.”

Misya menggeram di sebelahku. Aku menahan tangannya.

Papa lalu melihatku setelah memastikan Raka duduk di kursi bayi dengan aman.

Raka bahkan sempat memanggilku. “Kakak!”

Suaranya lantang.

Aku hanya bisa tersenyum datar melihatnya.

“Gimana sekolah home-schooling kamu?” tanya Papa.

Tidak ada kata ucapan selamat.

Oma yang sibuk dengan memesan makanan juga melakukan hal yang sama. Menganggap aku tidak ada.

“Bentar lagi ujian. Aku lumayan yakin dapet nilai bagus,” jawabku.

Papa tidak suka dengan itu. “Kamu yakin nggak mau coba sekolah biasa?”

“Aku nggak nyaman, Pa. Aku masih suka home-schooling.”

Tanganku mulai berkeringat membayangkan betapa ‘menyeramkannya’ bertemu anak-anak remaja lain di satu kelas.

Oma yang telah selesai memesan makanan, akhirnya ikut percakapan. Matanya jelas-jelas tidak bersimpati.

“Kamu nggak bisa selalu ikutin Mama kamu terus. Papa kamu sudah cari kampus bagus buat kamu nanti, coba kamu pikirin baik-baik.”

“Aku nggak mau kuliah kaya yang lain, Oma. Aku mau cari online aja.”

Oma tidak terima. “Kamu nggak berubah ya.”

Opini itu benar-benar menusuk hati.

“Kalau kamu kaya gini terus, kamu bisa sama kaya Mama kamu. Jadi beban buat keluarga!”

Misya mengamuk. “Oma! kenapa Oma nggak bisa ngertiin Kakak sih? Kakak nggak pernah jadi beban buat siapapun!”

Lihat selengkapnya