Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #41

#41 - Gelas kosong


Kami bertiga bersiap-siap. Untuk menghormati dan menghargai Raka, kami akan datang di hari pemakaman Raka.

Saat aku mendengar berita mengenai Raka, aku merasa hancur.

Ya, aku memang tidak dekat dengan dia. Aku juga merasa menjadi pilihan terakhir di mata Papa dan Oma.

Tapi tetap saja aku merasa sudah kehilangan sesuatu.

Aku menggenggam foto pertama dan terakhir yang kami ambil bersama Raka.

Air mataku jatuh tepat di atas foto itu.

“Kamu udah siap, sayang?” tanya Djima lembut. Dia sudah datang setelah mengganti pakaian hitam sama sepertiku.

Djima bersikeras ingin menemaniku bersama Misya dan Sisy. Paman dan Kakek tidak ingin ada masalah baru di sana sehingga memutuskan di rumah bersama Mama.

Semuanya terkejut mendengar berita ini.

Setelah apa yang sebelumnya terjadi di sini.

Aku mengambil tas dan mengikat rambutku. Aku harus bisa melewati ini.

Djima menangkup wajahku. “Aku nggak bakal kemana-mana. Aku bakal ada di samping kamu di sana. Kalau kamu ngerasa nggak nyaman, kita bisa pulang. Kamu tinggal bilang sama aku.”

Aku mengangguk. Memeluk dia sekuat mungkin.

Djima berbisik. “Aku tau kamu belum makan. Tapi nggak ada salahnya makan roti sama minum teh manis. Nggak terlalu berat tapi perut kamu jadi nggak kosong, Clara. Oke?”

Djima tidak memaksaku. Dia selalu seperti itu.

Aku mengangguk. Kami turun dan Djima tidak pernah melepaskan tanganku.

Di meja makan Misya dan Sisy juga berwajah sama. Seperti dipenuhi tumpukan masalah dan kehilangan yang sulit dijelaskan.

Aku berusaha makan semampuku. Djima hanya duduk dan memberikan aku waktu sendiri.

Mama datang dan memeluk kami semua.

Mama berkata. “Kita semua bakal pergi lagi lain hari. Raka anak yang baik.”

Mama sangat baik. Mama bisa memisahkan masalah kita semua dengan Papa. Tidak mencampurnya dengan Raka.

Semua sudah siap dengan pakaian hitam kami menuju pemakaman.

Aku tidak bisa berpikir lain saat ini. Memori mengenai Raka dengan senyuman tulusnya membayangi pikiranku.

Aku tidak punya banyak memori indah bersama dia.

Bisa dibilang memori kita mayoritas adalah drama keluarga yang berakhir buruk.

Perjalanan memakan waktu dua puluh menit. Sesampai di sana kami melihat sudah banyak keluarga besar yang hadir. Semua orang yang kami kenal tapi tidak dekat sama sekali.

Demi Raka kami akan berdoa sampai selesai. Demi kebahagiaan Raka di sana…

Djima dan aku berjalan di depan Misya dan Sisy.

Lihat selengkapnya