Ini adalah hari ke empat belas setelah Raka pergi…
Aku mengetuk kamar Mama. Karena tidak ada jawaban, aku membukanya perlahan. Mama sedang tertidur di meja kerjanya.
Tumpukan kertas dan berkas menemaninya semalaman.
Tangannya bahkan masih memegang bulpen.
Aku memegang pundak Mama. “Ma, ayo pindah. Jangan tidur di sini.”
Mama bergerak. Matanya masih merah. Kemudian melihat pakaianku yang sudah rapi.
“Kamu mau pergi?” tanya Mama mengecek ke jendela dan kaget karena sudah pagi.
Aku mematikan lampu. “Iya, hari ini mulai kerja di TK Sekar Wangi. Sebenernya aku sedikit gak yakin. Tapi aku mau coba dulu.”
Mama bahagia. Terlihat dari senyumannya. “Nggak apa-apa, Ra. Coba aja dulu nggak ada salahnya. Mama seneng kamu mau coba jadi guru.”
“Untung aja mereka mau nerima Ma, aku kan lebih banyak homeschooling sama belajar online. Lagian aku juga lulus mayoritas ngambil sks online.”
Mama berdiri dan memelukku. Aku bisa mencium kopi dari napas Mama. Sepertinya Mama meminum banyak kopi supaya bisa kerja.
“Siapa bilang jadi orang belajar online itu salah? kamu juga punya pengetahuan yang sama kaya yang lain.”
Aku memeluk Mama dengan erat. Aku berharap semoga aku bisa melewati hari ini dengan baik.
***
Aku memasukin kelas setelah menelepon Djima yang bilang ingin menjemputku setelah selesai jam dua belas nanti.
Kaka Malia, pengajar senior memperkenalkan aku dengan sepuluh anak di kelas ‘bunga matahari’.
“Ha…halo semuanya, nama Kakak, Kak Clara. Senang ketemu kalian semua,” ucapku dengan jantung berdebar.
Sepuluh pasang mata melihatku dengan mata tulus dan bersinar mereka.
Mereka semua menyapaku dengan melambaikan tangan. Bahkan ada yang berlari dan memelukku.
Benar-benar diluar prediksi.
Anak perempuan yang memelukku bernama Melodi. Dia memberikanku stiker berbentuk hati dan kembali ke mejanya.
Aku tersentuh melihat ada anak yang begitu bersahabat.
Ketika aku ditinggal sendirian bersama mereka, aku memulai dengan memberikan mereka buku gambar yang aku sudah persiapkan.
Aku memperhatikan mereka semua yang antusias menggunakan pensil warna mereka dan tidak takut untuk mewarnai dengan imajinasi mereka.
Aku dulu juga sama seperti mereka, pastinya. Pemberani dan melihat semuanya dengan sempurna.
Aku menghampiri Melodi. “Hai, Melodi. Kakak boleh duduk di samping kamu?”
“Iya, Kak Kara,” jawab Melodi yang salah menyebut namaku. Anak-anak wajar melakukan itu, mereka masih belajar untuk mengucapkan kata dengan benar.
“Melodi mau mewarnai apa?”
Melodi menunjuk gambar padang rumput dan kereta. Gambar pemandangan Skotlandia.
“Merodi suka kereta. Mama suka sekali bawa Merodi pergi pake kereta.”
Aku membantu Melodi. Mengambil pensil berwarna biru dan merah. “Kakak boleh bantu nggak? Kakak juga suka banget sama kereta.”
Melodi tersenyum. Senyuman paling tulus yang pernah aku dapatkan. “Kakak pernah naik kereta? kereta ini?”