Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #43

#43 - Hadiah tak terduga


Djima memantau dari ruang makan. Kami bertiga ada di ruang tamu, menjamu Papa.

Tamu tidak diundang.

Papa terlihat pucat, kurus dan tidak punya semangat. Matanya terlihat sangat lelah.

“Ada apa sampai Papa datang ke sini?” tanyaku tidak ingin basa-basi.

Papa mengusap wajahnya sejenak. “Ada yang ingin Papa katakan.”

Sisy bersandar. Sudah tidak ingin ada drama baru. Sementara Misya hanya bisa memalingkan wajahnya.

“Lansung aja, Pa. Sisy baru pulang kerja. Dia mau istirahat,” kataku beralasan.

Papa melirik ke arah ruang makan. Merasa tidak nyaman ada Djima di sana.

“Papa mau ajak kalian makan ke luar. Atau kita bisa ke safari kaya dulu.”

Aku melipat tangan. “Aku barusan dari sana. Lagian kita nggak ada yang perlu dibicarain lagi. Oma pasti nggak suka Papa di sini, atau jangan-jangan Oma nggak tau?”

Papa tidak menjawab. Tapi dari reaksinya seperti Oma tidak tau.

Papa mengeluarkan sesuatu. Sebuah kertas. Dia menyodorkannya padaku.

Pada awalnya aku menolak. Tapi aku ingin ini cepat selesai. Aku meraihnya. “Ini apa?”

Mata Papa berkaca-kaca. Dia tampak lebih tua dari biasanya. “Itu surat dari Raka.”

Kami bertiga terkejut. Kami bertatapan satu sama lain. Misya menahan diri untuk bicara. Sisy hanya bisa melirik surat itu tanpa tau harus berbuat apa.

Aku memegang surat itu dengan tidak tenang. “Surat untuk kami?”

Papa mengangguk. Matanya tertutup sebentar. “Surat untuk kalian bertiga. Surat untuk Papa sendiri, Papa sudah baca.”

Sepertinya surat dari Raka membuat Papa tersentuh. Papa sampai datang ke sini karena itu.

“Raka ingin Papa seenggaknya bisa punya hubungan baik sama kalian. Hal yang Papa nggak pernah ada usaha selama ini.”

Ternyata Papa bisa sadar juga.

Tapi surat itu begitu menyakitkan hingga Papa bisa melakukan ini.

Aku tidak berani membayangkan apa yang di katakan Raka di surat yang dia tulis untuk Papa.

Aku menahan air mata yang sudah mulai muncul di ujung mataku.

“Kalian bisa membacanya dulu. Setelah itu kalian bisa hubungi Papa kalau kalian mau.”

Misya menatap Papa dengan kebencian yang mendalam. Jelas-jelas dia tidak ingin pergi bersama Papa.

Sisy yang sejak tadi diam, akhirnya bicara. Suaranya tidak ada keceriaan seperti biasa. “Kami akan baca habis Papa pulang.”

Papa berdiri. Tapi sebelum pergi Papa memberikan tiga kotak pada kami.

“Hadiah dari Raka untuk kalian.”

Aku menghapus air mata yang sempat jatuh di depan Papa. Aku hanya bisa mengangguk.

Papa pergi tanpa ada yang mengantarnya keluar.

Baik Misya dan Sisy membawa kotak mereka ke kamar masing-masing.

Djima menemaniku di dalam kamar dalam keheningan beberapa menit.

“Itu dari Raka?” tanya Djima simpatik.

“Ya. Surat sama hadiah. Aku nggak tau apa yang dipikirin Raka sampai nyiapin semua ini.”

Djima berjongkok di depanku. “Kalau kamu ragu, kamu nggak perlu buka sekarang. Kamu masih berusaha nerima Raka pergi. Luka kamu belum sembuh.”

“Luka kehilangan orang nggak akan pernah sembuh, Djima. Kita memang nggak deket sama Raka. Tapi dia nggak pernah macam-macam. Dia seharusnya...”

Djima memegang daguku. “Jangan nyalahin diri kamu sendiri. Kamu juga punya ‘perang’ kamu sendiri selama ini. Kamu berjuang untuk diri kamu. Bukan berarti kamu nggak perhatian sama orang lain.”

“Aku harus baca ini sekarang.”

Djima menyentuh pipiku. “Oke, aku balik dulu. Ini waktu kamu sama adik kamu. Aku nggak bakal ganggu ‘waktu’ kalian.”

Dia mengecup dahiku. Tersenyum dan pergi.

Sekarang aku sendiri bersama hadiah dari Raka.

Aku bahkan tidak pernah memberikannya hadiah sekalipun.

Lihat selengkapnya