Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #44

#44 - My dear Djima


Dua puluh tahun yang lalu…

Di safari…

Sisy duduk di kursi depan di sebelah Papa.

Aku dan Misya sibuk memperhatikan semua hewan yang ada di sisi kiri dan kanan.

“Pasti dia kesepian,” gumamku melihat jerapah yang hanya sendirian saja.

Misya tergelak. “Bisa-bisanya Kakak jadi sedih. Mereka kan punya banyak temen di sini.”

Adikku tidak mengerti.

Tapi aku bisa melihat betapa berbedanya setiap hewan yang ada di kebun binatang ini. Mereka boleh berada di tempat yang sama tapi mereka tidak sama.

Sama seperti manusia.

Papa memberhentikan mobil supaya kami bisa memberi makan pada mereka yang ada di luar.

Papa menoleh. Wajahnya lebih bahagia, setelah bertengkar dengan Mama kemarin.

Hanya aku yang tau…

“Jangan lupa hati-hati sama tangan kalian ya, jangan terlalu keluar dari kaca jendela,” pinta Papa pelan.

Kami semua tidak membantah. Memang berbahaya mengeluarkan tangan.

Sisy paling antusias.

Aku?

Aku memanggil jerapah yang berada di luar jendela. Anehnya, dia datang. Aku tersenyum lebar. Setidaknya aku bisa memberinya makan.

Aku mengeluarkan wortel. Jerapah menunduk dengan lehernya yang panjang itu.

Aku melihat dia kesulitan, jadi aku menjulurkan lagi tanganku lebih jauh ke luar.

Dia memakannya!

Matanya yang besar membuat aku terpesona!

Bagaimana bisa ada hewan menggemaskan seperti ini?

Kami akhirnya harus pergi ke area lain. Aku sedih.

Semoga aku bisa berjumpa dengan jerapah itu lagi.

Dia tidak akan sendirian jika aku sering kemari.

Kami berkeliling ke setiap tempat. Makan lalu membeli cenderamata.

Aku membeli boneka jerapah.

Misya dan Sisy memegang tangan Papa dan berkeliling. Mereka memiliki boneka kesukaan mereka sendiri.

Saat mereka sedang tertawa, aku melihat Papa dari jauh. Papa tepat di belakang mereka.

Mata Papa seperti kosong.

Seperti memikirkan sesuatu yang tidak akan aku mengerti…

***

Masa Kini

 

Hari ini adalah hari pertandingan Djima. Sebuah gedung pertemuan dijadikan arena octagon. Maklum, di Bogor belum ada tempat khusus untuk menyelenggarakan hal seperti ini.

Sisy duduk di kursi sebelah. Dia datang membawa popcorn dan latte. Menyodorkannya tanpa rasa gelisah di wajah dia sama sekali!

“Kamu bisa tenang lagi kondisi kaya gini?” tanyaku tidak percaya.

Sisy mengendikkan bahu. “Lagian kenapa harus ketar-ketir? Kak Djima itu paling jago dari semua petinju yang aku tonton, Kak. Udah, tenang aja. Mendingan Kakak minum dulu, biar wajah cantik Kakak itu nggak pucet-pucet amat.”

Lihat selengkapnya