Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #45

#45 - Pesta sang juara


Aku tanpa sadar mendapat perhatian lebih dari para penonton. Mereka ada yang berbisik dari kursi mereka. Aku lalai karena tidak memakai topi dan masker.

Aku meminjam topi Arman pada akhirnya.

Setelah itu aku berusaha mencari ‘Mama’ dari Djima. Tapi tidak terlihat lagi. Seolah ia menghilang dan tidak pernah ada.

“Ra, ayo kita balik ke ruang ganti,” saran Arman. “nanti mereka bakal ngerubungin Djima, kita bakal susah gerak.”

Djima sedang mengatakan kata-kata pidato kemenangan di depan semua orang, tapi kami harus pergi ke ruang ganti segera.

Setelah melewati lautan manusia yang semakin mendekat dan mulai banyak yang mengenaliku, aku berlari dengan cepat.

Sesampainya di ruang ganti aku merasa lebih tenang.

“Kakak nggak apa-apa?” tanya Sisy langsung.

Aku menggeleng. “Tapi kayanya sudah ada yang sadar. Aku masuk berita lagi, pasti.”

Arman memberi kami semua kopi kaleng. “Jangan buka berita. Jangan buka sosmed.”

Hal yang sulit untuk dilakukan.

Sisy pergi ke kamar kecil dan meninggalkan kami berdua. Aku ingat dengan Mama Djima.

“Arman, lu pernah ketemu Mama Djima?” tanyaku hati-hati.

Arman berubah serius. Dia teman Djima yang sangat loyal, dia tau topik apa yang dibenci untuk dibahas oleh Djima. Ini salah satunya.

“Kenapa lu tanya soal masalah ini?”

“Kayanya aku ngeliat Mamanya Djima tadi.”

Arman terkejut. “Lu liat Mamanya? lu pernah liat wajahnya?”

Aku punya cukup insting. “Wajahnya mirip. Dia berdiri di belakang tadi. Djima nggak ngeliat ke belakang.”

Arman memegang kepalanya. “Ini buruk banget kalo bener itu Mamanya. Kayanya aku mesti cek dulu, diluar. Pas Sisy balik, lu pastiin Djima jangan keluar dulu dari ruangan ini.”

Aku mengangguk setuju. Djima sedang bahagia. Masalah baru malah akan bikin kacau semuanya.

Djima dan para pelatihnya masuk. Mereka berteriak kegirangan. Aku lega bisa melihat dia tersenyum lebar. Dia menyentuh wajahku setelah menghapus keringat di tangannya.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Djima yang tidak melupakan diriku sama sekali.

Aku tersenyum. “Aku nggak apa-apa. Tenang aja. Buruan kamu mandi aja dulu.”

Djima menyentuh hidungku lalu pergi mandi sementara yang lain masih berteriak kegirangan karena sudah sukses dengan semua kerja keras mereka.

“Cie…kalian udah jadi pasangan juara nih,” goda Sisy.

“Yang juara itu cuman Djima, bukan Kakak kamu ini.”

“Kak Djima juga juara karena udah bisa tenang liat keadaan Kakak. Bayangin kalau Kakak lagi nggak sehat atau apa, hari ini bakal sulit banget dilewatin.”

Aku mendorong lengan Sisy. “Jangan berlebihan.”

Lihat selengkapnya