Hal pertama yang kami lakukan saat Mama Djima datang adalah membubarkan pesta kecil itu.
Arman pada awalnya ingin mengusirnya tapi aku menahannya. Takut terjadi masalah di muka umum.
Para pelatih sudah turun dan kembali ke gym. Sisy menunggu Arman yang masih menatap dengan benci Mama Djima.
Djima hanya duduk dengan tatapan ke arah lain. Aku mencoba menggenggam tangannya dari samping.
“Tante berani banget dateng ke sini? nggak sadar juga pas aku bilang tadi?” ketus Arman.
Mama Djima hanya tersenyum kecil. Matanya sedih. “Sudah waktunya tante ketemu Djima.”
Arman mendesah panjang sambil memegang rambutnya dengan kesal. Sisy berbisik dan menarik dia untuk turun. Terlalu banyak orang akan membuat pelanggan lain tidak nyaman.
Mama Djima menoleh ke arahku. “Nak, nama kamu siapa?”
“Sa…saya…”
“Jangan jawab,” pinta Djima sambil memegang tanganku.
Dia seolah mencari pegangan tangan sekaligus sandaran.
Aku tidak tau harus berbuat apa di depan dua ibu dan anak ini. Jujur, aku berada di sisi Djima. Aku tau bagaimana bencinya aku pada Papa sejak kecil.
Ini menyakitkan bagi Djima.
“Boleh Mama duduk di sini?” tanya sang Mama dengan penuh harap.
Djima menggenggamku lebih kencang. “Kita nggak perlu basa-basi. Ada urusan apa lagi?”
Sang Mama menarik kursi. Duduk tanpa persetujuan Djima. “Djima…”
“Siapa yang bilang kamu boleh duduk?” tanya Djima tersulut emosi.
Sang Mama menahan tangis. “Bisa dengarkan Mama dulu kali ini?”
“Nggak, untuk apa? kalian pasti butuh duit kan?”
Aku merasa sakit mendengar itu. Siapa yang tidak merasa tersakiti jika hanya menjadi sumber uang bagi orang lain.
Aku juga pasti akan merasa kecewa.
Mamanya tidak mengelak tapi membahas yang lain. “Kamu tau masalah adik kamu?”
Mataku terbelalak. Apa ada masalah lagi dengan adiknya?
“Adik tiri,” koreksi Djima. “dia bukan siapa-siapa yang perlu diperhatiin.”
Mamanya menutup mata sejenak lalu membukanya kembali. “Dia tetap adik kamu. Dia nggak salah.”
“Lahir kedunia penuh sama drama keluarga memang bukan salah dia,” kata Djima dengan sinis. “tapi bikin masalah sama orang-orang red-flag, itu salah dia.”
“Dia sudah coba berubah?”
Djima bersandar. Dia percaya diri untuk menghabiskan percakapan ini dengan kemenangan dirinya. “Coba? dia bikin masalah di gym, bisa-bisanya kamu masih bela dia, Ibu Norma?”
Hatiku sakit mendengarnya.
Dia bahkan tidak sudi menyebut nama sang Mama.